Sri “Itut” Hastuti, pelatih PSW Mataram sekaligus pemain Timnas Wanita Indonesia era 1980-an, masih mengingat jelas bagaimana wajah sepak bola wanita di masa awal perkembangannya. Jauh sebelum ada kompetisi dan friendly match seperti sekarang, ia dan rekan-rekannya harus berjuang di tengah keterbatasan.
Menurut Itut, perbedaan paling terasa antara sepak bola wanita di era 198-an dan sekarang adalah soal kompetisi. Dulu, kesempatan bertanding sangat jarang. Karena itulah, Itut dan rekan-rekannya lebih sering mendapat lawan bertanding yang tidak biasa.
“Kejurnas jarang, paling satu tahun sekali. Terus juga kalau kita bermain itu seringnya dapat undangan lawan bapak-bapak atau lawan waria. Klub-klub waria, gitu,” cerita Itut dalam wawancara eksklusif bersama kumparanBOLANITA di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Minggu (1/2).
Selain itu, keterbatasan jumlah pemain juga menjadi tantangan besar. Mayoritas pemain bukan remaja, melainkan wanita berusia 20 tahun ke atas yang bahkan sudah menikah dan memiliki anak.
“Jadi walaupun sudah punya suami, punya anak, mereka tetap bermain. Karena memang sulit waktu itu mencari pemain yang berusia muda,” kata wanita kelahiran 1966 itu.
Meski begitu, Itut bercerita bahwa suasana kebersamaan antara rekan setimnya terasa sangat kuat. Setiap kali mengikuti turnamen, para pemain datang ramai-ramai bersama keluarga.
“Saya saja waktu itu bawa dua anak. Terus kadang bawa suami dan juga saudara untuk momong anaknya. Jadi gayeng wae (seru aja) waktu itu,” kata Itut sambil tertawa, mengingat kenangan empat dekade silam.
Tak hanya membawa keluarga, mereka juga membawa bekal makanan sendiri saat mengikuti turnamen. Bahkan, Itut pernah membawa logistik lengkap untuk memasak bersama timnya.
“Tahun berapa ya… akhir tahun 2000-an berapa itu, saya dan anak-anak—tapi waktu itu sudah menjadi pelatih—itu saya bawa atlet, plus bekal untuk masak. Kita bawa bekal untuk masak waktu itu di Bangka Belitung,” ucap Itut.
“Anak-anak pada disuruh bawa bahan masakan. Ada yang bawa mie, ada yang bawa beras, gula, minyak, bawang, pokoknya banyaklah yang penting untuk kepentingan kita selama di sana kita makan, masak,” sambungnya.
Di tengah segala keterbatasan, para pelatih dan ofisial juga dituntut serba bisa. Merangkap berbagai peran adalah hal yang biasa.
“Kalau saya sama teman-teman ya jadi pelatih, ya jadi masseur, ya jadi tukang cuci laundry, ya jadi koki, semuanya bisa. Nggak seperti sekarang sudah tertata: masseur siapa, kitman siapa, pelatihnya siapa. Dulu nggak sama sekali. Wes opo kabeh opo-opo iso (sudah, pokoknya semua-semua harus bisa melakukannya),” pungkas Itut.




