JAKARTA, KOMPAS – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese untuk menandatangani Traktat Keamanan Bersama di Istana Merdeka, Jakarta. Traktat memperbarui dan memperluas kerja sama pertahanan dan keamanan yang pernah dibuat kedua negara sebelumnya. Serangkaian inisiatif kerja sama baru disepakati, termasuk menawarkan posisi untuk perwira senior Indonesia di Angkatan Bersenjata Australia.
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese tiba di Istana Merdeka, Jakarta, sekitar pukul 09.00 WIB, Jumat (6/2/2025). Presiden Prabowo Subianto kemudian menyambut langsung Albanese di sisi barat Istana Merdeka. Keduanya berjabat tangan dan sempat menyaksikan Tari Naikonos Larik dari Nusa Tenggara Timur sebelum bersama-sama menaiki tangga menuju beranda depan Istana Merdeka.
Upacara penyambutan resmi diawali dengan dikumandangkannya lagu kebangsaan Australia dan dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seusai upacara penyambutan, Presiden Prabowo dan PM Albanese saling memperkenalkan delegasi masing-masing negara.
Delegasi Indonesia yang turut hadir dalam penyambutan tersebut adalah Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Presiden Prabowo dan Albanese lantas menuju ruang kredensial untuk melaksanakan sesi foto bersama. Setelah itu, Albanese diarahkan menuju ruang kerja Presiden Prabowo untuk melakukan pertemuan empat mata guna membahas berbagai isu strategis dan kerja sama bilateral kedua negara.
Kedua pemimpin kemudian menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman dilanjutkan pernyataan pers bersama. Rangkaian kunjungan kerja Albanese ditutup dengan jamuan santap siang yang digelar di beranda Istana Merdeka.
Prabowo mengatakan, Australia dan Indonesia mempunyai hubungan persahabatan yang cukup panjang. Australia bahkan menjadi salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia pada 1945. Kunjungan kerja Albanese kali ini kembali menegaskan hubungan erat dan komitmen bersama untuk terus memperkuat kemitraan kedua negara.
Presiden menuturkan, Indonesia-Australia telah memperbarui traktat keamanan bersama. Kesepakatan ini mencerminkan tekad kedua negara untuk mempererat kerja sama dalam menjaga keamanan nasional masing-masing negara serta berkontribusi nyata bagi perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
“Bagi Indonesia hal ini mencerminkan komitmen teguh terhadap prinsip bertetangga baik dan kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif,” tuturnya.
Prabowo melanjutkan, Indonesia dan Australia ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Oleh karena itu, Indonesia memilih untuk membangun hubungan kerja sama berdasarkan rasa saling percaya dan iktikad baik. Indonesia ingin bersahabat dengan semua pihak dan tidak ingin memiliki satu pun musuh. “Untuk itu, kami meyakini bahwa perjanjian ini akan menjadi salah satu pilar penting bagi stabilitas dan kerja sama di kawasan kita,” katanya.
PM Albanese pun berterima kasih atas sambutan hangat terhadap kedatangannya di Jakarta. Ia merasa terhormat bisa kembali ke Jakarta untuk kelima kalinya selama menjabat sebagai perdana menteri. “Tidak ada negara yang lebih penting bagi Australia atau bagi kesejahteraan, keamanan, dan stabilitas Indo-Pasifik dibanding Indonesia,” ujarnya.
Australia dan Indonesia disebut memiliki rasa saling percaya yang mendalam serta hubungan tidak terpatahkan sebagai tetangga, mitra, dan sahabat. Dalam semangat persahabatan itu, Albanese berbela sungkawa atas bencana banjir dan longsor yang mendera masyarakat di Sumatera, Desember 2025 lalu.
Mengenai Traktat Keamanan Bersama, Albanese menjelaskan bahwa kesimpulan substantif terkait sudah dibahas dalam kunjungan Presiden Prabowo ke Sidney, November 2025. Sejak saat itu pula, kedua negara sepakat untuk menandatangani perjanjian kerja sama bilateral baru tentang keamanan bersama di Jakarta 2026.
Menurut dia, Traktat Keamanan Bersama menunjukkan persahabatan erat, kemitraan, dan kepercayaan mendalam di antara kedua negara di bawah kemitraan strategis komprehensif. Apalagi, itu sudah dibangun sejak tiga dekade lalu, ketika Presiden ke-2 RI Soeharto dan Perdana Menteri Paul Keating menandatangani kerjasama pertahanan pada Desember 1995.
“(Kini) merupakan momen bersejarah bagi kerja sama negara kita dan pengakuan bahwa cara terbaik untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan kita adalah dengan mengadakan aksi bersama,” kata dia.
Albanese melanjutkan, traktat ini merupakan perluasan signifikan dari kerja sama pertahanan dan keamanan yang sudah dijalin Australia dengan Indonesia sebelumnya. Hal itu penting karena kedua negara memiliki salah satu batas maritim terpanjang di dunia yang secara alami membuat Australia dan Indonesia sebagai mitra yang erat. Namun, kini kedua negara tidak hanya mitra tetapi juga sahabat dekat.
Adapun perluasan kerja sama dimaksud adalah adanya serangkaian inisiatif kerja sama pertahanan baru. Salah satunya menawarkan membentuk posisi baru untuk perwira senior Indonesia di Angkatan Bersenjata Australia (ADF).
Australia juga mendukung pengembangan fasilitas latihan pertahanan untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mengadakan latihan gabungan dengan para mitra, termasuk Indonesia. Selain itu, kedua negara akan menambah pertukaran pendidikan militer antarangkatan bersenjata untuk membangun hubungan dan meningkatkan saling pengertian di antara generasi pimpinan militer masa mendatang.
Selain kerja sama keamanan, kedua negara juga memperluas kolaborasi di berbagai sektor. Di bidang pertanian, Indonesia mengajak Australia untuk mengembangkan joint venture guna mendukung upaya Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan.
Presiden Prabowo juga mengundang Australia untuk berinvestasi di sektor hilirisasi mineral kritis, termasuk pengolahan nikel, tembaga, bauksit, dan emas. Pada saat yang sama, Indonesia juga mendorong perusahaan Indonesia untuk berinvestasi di sektor pertambangan mineral kritis Australia.
“Danantara siap bekerja sama dengan para mitranya di Australia untuk menjajaki peluang co-investment dan dalam berbagai bentuk kemitraan lainnya,” katanya.
Di bidang pendidikan dan tenaga kerja terampil, Presiden juga mengundang Australia untuk memperkuat sistem pendidikan di Indonesia. Kerja sama akan dilakukan melalui program pelatihan dan peningkatan kapasitas guru serta tenaga pengajar. Para pendidik itu nantinya akan ditempatkan di universitas dan sekolah baru yang sedang dibangun pemerintah.
“Dalam hal ini, saya menyampaikan apresiasi atas dukungan Australia melalui Australia Awards Garuda Scholarship dalam mendukung upaya tersebut,” tuturnya.
Di sisi lain, Indonesia menawarkan kontribusi tenaga kerja terampil untuk memenuhi kebutuhan sektor profesional di Australia. Untuk itu, Presiden mengusulkan perluasan pengakuan sertifikasi profesi antarnegara.
Tak hanya itu, Prabowo mengundang Albanese menghadiri Ocean Impact Summit di Bali pada Juni mendatang. Forum tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi kelautan kedua negara. “Kita harus memahami bahwa laut adalah kepentingan bersama bagi semua negara, apalagi kedua negara kita,” kata Prabowo.
Albanese mengakui, penguatan kerja sama dengan Indonesia dan Asia Tenggara secara lebih luas merupakan prioritas utama pemerintahnya. Australia pun telah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Danantara. Kerja sama itu diharapkan bisa mendorong peningkatan kerja sama dan pertukaran informasi di antara kedua negara.
“(Kesepakatan kerja sama) ini akan membantu mengidentifikasi kesempatan peningkatan investasi dua arah, serta memperkuat keamanan dan ketahanan ekonomi dan keamanan kita,” tuturnya.




