Kalianda: Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menilai percepatan transisi energi melalui pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) jadi solusi untuk memenuhi kekurangan pasokan listrik di Provinsi Lampung sekitar 400 MW. Saat ini pasokan listrik masih dipenuhi melalui sistem interkoneksi Sumatra bagian selatan.
"Saya menilai kondisi ini memiliki risiko tinggi apabila terjadi gangguan jaringan di wilayah pemasok. Karena itu saya mendorong Lampung ini bisa memanfaatkan potensi besar yang dimiliki, terutama panas bumi (geothermal) dengan kapasitas mencapai sekitar 800 MW," kata Sugeng saat memimpin Tim Kunspek Komisi XII DPR di PLTU Tarahan, Lampung Selatan, Kamis, 5 Feberuari 2026.
Baca Juga :
Hilirisasi dan Energi Terbarukan Jadi Magnet Baru Modal Global ke Indonesia"Ke depan, kebutuhan listrik Lampung diproyeksikan meningkat hingga 1,6–1,8 gigawatt pada 2030. Untuk itu, pemerintah daerah bersama PLN dan Kementerian ESDM akan menyusun peta jalan lima tahunan guna memastikan pemenuhan kebutuhan listrik yang andal, berkelanjutan, dan berbasis energi bersih," ujar Sugeng.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto. Foto: Metrotvnews.com/Duta Erlangga.
Ia mengungkapkan bahwa rasio elektrifikasi Lampung telah mencapai 99,8 persen. Meski demikian, masih terdapat sekitar 0,2 persen rumah tangga yang belum menikmati akses listrik secara layak.
Ke depan, pemerintah menargetkan setiap rumah tangga memiliki sambungan listrik mandiri dengan peningkatan daya minimum dari 900 watt menjadi 1.300 watt untuk mendukung listrik sebagai kebutuhan dasar masyarakat.
"Kami di DPR mengingatkan, agar target ke depan bukan hanya pemerataan akses, tetapi juga peningkatan kualitas layanan listrik agar benar-benar mampu menunjang aktivitas dan kesejahteraan masyarakat,” ucap dia.




