Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, melainkan simbol awal baru dalam kehidupan. Momen ini dimaknai sebagai waktu untuk meninggalkan kesialan dan menyambut harapan yang lebih baik.
Sejarah Imlek tidak terlepas dari legenda yang berkembang secara turun-temurun di China. Salah satu yang paling dikenal adalah kisah monster Nian yang konon muncul setiap akhir tahun.
Monster Nian dipercaya takut pada warna merah, cahaya terang, dan suara keras. Dari cerita inilah lahir tradisi penggunaan warna merah dan petasan dalam perayaan Imlek.
Warna merah kemudian menjadi simbol utama dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Warna ini melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan dari energi negatif.
Selain legenda, Imlek juga berakar dari tradisi agraris masyarakat China kuno. Perayaan ini menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi yang penuh harapan.
Karena itu, Imlek sering disebut sebagai Festival Musim Semi. Masyarakat merayakannya sebagai bentuk syukur dan doa agar tahun baru membawa hasil panen serta rezeki yang melimpah.
Rangkaian perayaan Imlek biasanya berlangsung selama 15 hari. Perayaan dimulai dari malam tahun baru dan ditutup dengan perayaan Cap Go Meh.
Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah makan malam bersama keluarga besar. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Selain itu, pemberian angpao juga menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek. Angpao melambangkan doa untuk keberuntungan, keselamatan, dan umur panjang.
Seiring waktu, perayaan Imlek menyebar ke berbagai negara di dunia. Tradisi ini dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang bermigrasi ke berbagai wilayah.
Di Indonesia, Imlek kini dirayakan secara terbuka dan meriah. Perayaan ini menjadi simbol keberagaman budaya serta semangat toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.(*)
Artikel Asli



