Pengrajin kain tenun saat mempraktikkan pembuatan tenun di pameran BCA Expoversary 2026 yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Jumat (6/2).
Kain tenun ikat khas Nusa Tenggara Timur (NTT) kini kian bernilai ekonomi tinggi. Harga satu lembar tenun berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 3,5 juta, seiring meningkatnya kualitas produksi para perajin yang mendapat pembinaan intensif selama tiga tahun terakhir.
Sebanyak 50 anggota perajin tergabung dalam program tersebut. Sebelum dibina, para penenun masih bekerja secara mandiri. Kini mereka telah memiliki sistem kerja kelompok, koperasi resmi, hingga akses pemasaran yang lebih luas.
Anggota kelompok perajin, Dian (33), menjelaskan proses pembuatan satu lembar kain tenun membutuhkan sekitar 24 tahapan dan rata-rata memakan waktu satu bulan. Dalam satu siklus produksi tiga bulan, setiap penenun bisa menghasilkan sekitar delapan lembar kain berukuran 60 x 2 meter.
“Setiap orang juga mendapat jatah benang sekitar lima kilogram per tiga bulan. Selain bantuan bahan baku, kami juga diajarkan teknik pewarnaan alami, pemasaran, sampai pengelolaan koperasi,” kata Dian.
Pewarna yang digunakan berasal dari bahan alam, seperti biru dari olivera, merah dari akar mengkudu, kuning dari kayu kuning, cokelat dari tengi, hijau dari jolawe, serta krem dari daun bidara. Pendekatan ini tidak hanya menjaga keaslian tenun NTT, tetapi juga ramah lingkungan.
Program pembinaan dilakukan secara rutin setiap tahun, dengan pendampingan per tiga bulan. Selain pelatihan teknis, para perajin juga difasilitasi dalam penjualan produk agar hasil karya mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Dengan adanya pendampingan dari bakti BCA berkelanjutan ini, tenun ikat NTT tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan yang semakin menjanjikan bagi masyarakat lokal.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5439037/original/007873400_1765346950-jung_2.jpg)



