Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan perusahaan asal India, Essar Group, akan berinvestasi di beberapa proyek kilang minyak PT Pertamina (Persero).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, mengatakan komitmen investasi Essar Group tersebut difasilitasi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Setelah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan diresmikan pada Senin (12/1), Pertamina akan melanjutkan proyek revitalisasi kilang tersebut pada Kilang Dumai.
"Kita lihat RDMP itu baik untuk ketahanan energi kita. Kemudian Pak Menteri juga melihat, ini ada investor yang ingin berinvestasi, dan kemarin dimediasi oleh Pak Menteri untuk langsung bertemu dengan Pertamina secara B2B," ungkap Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (6/2).
Selain di Kilang Dumai, Laode membuka potensi Essar Group berinvestasi di proyek optimalisasi kilang lainnya. Pasalnya, pembicaraan masih berlangsung hingga kini.
"Salah satunya Dumai. Hasilnya nanti akan ada diskusi dulu sama Pertamina. Jadi ini masih tahap diketemukan dulu antara Essar sama Pertamina, masih ada ketemuan selanjutnya untuk membahas itu," jelasnya.
Sebelumnya, Bahlil mengadakan pertemuan dengan pihak Essar Group dan Pertamina untuk membahas rencana investasi terkait pengembangan infrastruktur kilang di Indonesia.
"Kemarin saya menghadiri rapat pembahasan rencana pengembangan infrastruktur kilang minyak bumi di Indonesia bersama Essar Group dan Pertamina. Kami membahas penguatan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri sekaligus peningkatan nilai tambah industri hilir," katanya melalui unggahan di Instagram @bahlillahadalia, Kamis (5/2).
"Rencana investasi ini diharapkan dapat berjalan selaras dengan kebijakan pemerintah dan berkontribusi pada penguatan ketahanan energi nasional," imbuhnya.
Hal ini seiring rencana penyetopan impor solar dengan cetane number (CN) 48 mulai awal 2026 dan solar CN 51 pada semester II 2026. Pemerintah juga menargetkan langkah serupa pada avtur mulai 2027.
Ke depan, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah (crude), sementara pengolahan dan pemenuhan kebutuhan bahan bakar dilakukan di dalam negeri.




