Bisnis.com, JAKARTA — Badan pengelola investasi Danantara Indonesia merespons revisi outlook negatif dari Moody’s Ratings sebagai alarm untuk memperkuat tata kelola dan disiplin investasi nasional.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan catatan dari lembaga pemeringkat internasional ini merupakan pengingat untuk terus memperkuat fondasi institusi, menegaskan arah kebijakan, dan menjaga disiplin pelaksanaan sebagai kunci mempertahankan kepercayaan serta stabilitas jangka panjang.
Dia juga menuturkan bahwa peringkat investment grade Indonesia tetap terjaga, sehingga merefleksikan kepercayaan terhadap ketahanan makroekonomi, disiplin fiskal, serta prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia.
“Penyesuaian outlook tersebut sekaligus menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan dan konsistensi kebijakan dalam melanjutkan agenda pembangunan nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (6/2/2026).
Sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang baru didirikan pada tahun lalu, Danantara kini tengah memacu pembangunan institusi yang berjangkar pada tata kelola kuat dan manajemen risiko pruden.
Menurutnya, fondasi kelembagaan tersebut terus diperkuat secara bertahap untuk menjaga kredibilitas institusi, meningkatkan kepercayaan pasar, dan menghasilkan kinerja investasi yang berkelanjutan.
Rosan memaparkan peta jalan tata kelola Danantara Indonesia mencakup penerapan struktur pengambilan keputusan dan fungsi pengawasan yang ketat di seluruh siklus investasi dan pengelolaan portofolio.
Selain itu, Danantara menerapkan kerangka manajemen risiko yang terpadu serta memastikan seluruh investasi dilakukan secara pruden dengan alokasi modal berbasis kelayakan komersial dan disiplin portofolio jangka panjang.
Upaya penguatan tata kelola juga diarahkan pada peningkatan transparansi, akuntabilitas, serta standar tata kelola di seluruh portofolio Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berada di bawah pengelolaan Danantara.
“Danantara Indonesia akan terus beroperasi secara profesional, akuntabel, dan transparan dalam menjalankan peran sebagai pengelola aset negara yang kredibel bagi masa depan Indonesia,” pungkas Rosan.
Dalam pengumuman resminya, Moody’s menilai ada penurunan koherensi dalam perumusan kebijakan di Indonesia selama setahun. Hal ini berisiko menggerus kredibilitas kebijakan yang menopang stabilitas makroekonomi dan fiskal.
"Komunikasi kebijakan yang kurang efektif telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas Indonesia di mata investor. Perkembangan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators untuk efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi," tulis Moody’s.
Meski demikian, Moody’s menegaskan peringkat Baa2 masih layak dipertahankan berkat kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam, demografi yang menguntungkan, serta kebijakan moneter yang tetap pruden.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




