Ikan salmon menjadi salah satu jenis ikan yang menjadi favorit ibu-ibu untuk diberikan kepada anaknya, bahkan sejak masa MPASI. Rasanya yang enak dan gurih ini membuatnya mudah dimasak menjadi berbagai menu.
Namun, ada perdebatan di media sosial beberapa waktu lalu tentang ikan salmon farmed atau yang hasil budidaya. Sebagian netizen menyebut salmon hasil budidaya tidak sebaik salmon liar karena tidak ditangkap langsung dari habitat aslinya.
Hal ini tentu membuat banyak ibu bertanya-tanya, apakah salmon farmed aman untuk MPASI anak, mengingat ikan salmon tidak hidup di perairan Indonesia?
Perbedaan Salmon Wild dan Salmon FarmedFaktanya, salmon bukan ikan lokal Indonesia. Ikan ini hidup di perairan dingin negara empat musim seperti Norwegia, Chile, Skotlandia, Inggris, Amerika Serikat, hingga Jepang.
Berdasarkan cara mendapatkannya, salmon terbagi menjadi dua jenis:
Salmon wild, yaitu salmon yang ditangkap langsung dari alam
Salmon farmed, yaitu salmon hasil budidaya
Meski berbeda cara perolehannya, Guru Besar Ilmu Teknologi Hasil Perairan IPB University, Prof. Dr. Mala Nurilmala, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa keduanya sama baiknya dari sisi nutrisi.
“Saya pernah melihat langsung budidaya salmon di Norwegia. Sistemnya sangat maju dan terdigitalisasi. Budidaya dilakukan di keramba jaring apung di laut, pakannya diberikan otomatis, dan seluruh proses dari benih hingga panen sangat terkontrol,” jelas Prof. Mala kepada kumparanMOM, Kamis (5/2).
Artinya, tidak perlu khawatir memberikan salmon farmed untuk MPASI. Salmon tetap kaya omega-3 (EPA dan DHA) yang penting untuk:
Perkembangan otak anak
Kesehatan mata
Kesehatan jantung
Agar nutrisinya tetap optimal, Prof. Mala menyarankan metode memasak dengan suhu tidak terlalu tinggi dan minim minyak, seperti dikukus atau di-steam.
Selain itu, Anda juga perlu jeli memilih salmon yang segar. Ciri-ciri salmon segar antara lain:
Mata jernih dan cemerlang (jika masih utuh)
Daging kenyal dan elastis
Aroma segar, tidak menyengat
Warna cerah dan tidak kusam
Sebaliknya, hindari salmon dengan daging lembek, bau menyengat, atau warna pucat.
Alternatif Ikan Lokal yang Tak Kalah BergiziJika sulit mendapatkan salmon, ikan lokal seperti ikan kembung dan ikan sarden juga bisa jadi pilihan. Kandungan lemak dan omega-3-nya tinggi dan baik untuk tumbuh kembang anak.
“Jika anak diare setelah makan salmon, biasanya bukan karena ikannya, tapi akibat penanganan yang kurang higienis atau kontaminasi bakteri seperti E. coli atau Salmonella setelah dimasak,” ucap Prof Mala.
Jadi, kuncinya bukan hanya pada jenis ikannya, tapi juga kebersihan, kesegaran, dan cara pengolahannya ya, Moms.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495279/original/082734900_1770362951-pengadilan_negeri_depok.jpg)

