KUPANG, KOMPAS - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengirim utusannya untuk menemui keluarga siswa sekolah dasar yang mengakhiri hidupnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Pemerintah berkomitmen membantu anak yang kurang beruntung secara ekonomi.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Nusa Tenggara Timur (NTT) Teguh Rahayu Slamet, Jumat (6/2/2026), mengatakan, utusan menteri langsung datang ke rumah duka untuk menyampaikan ucapan duka atas peristiwa tragis itu. Ibu korban, yakni MGT (47), menyambut mereka dalam suasana kekeluargaan.
Menurut Teguh, pemerintah pusat senantiasa memberikan dukungan bagi semua anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dukungan tersebut lawat dana Bantuan Operasi Sekolah (BOS) maupun beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP).
Selain itu, pemerintah pusat berusaha menghadirkan layanan pendidikan yang bermartabat di semua sekolah. Di antaranya pembangunan dan rehabilitasi gedung sekolah serta dukungan terhadap peningkatan kualitas guru.
"Sektor pendidikan menjadi prioritas pemerintah pusat agar semua anak Indonesia bisa belajar dengan baik. Semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar meraih cita-cita mereka," kata Teguh.
Penelusuran Kompas menemukan dokumen laporan tertulis Pemerintah Kabupaten Ngada yang ditujukan kepada Pemerintah Provinsi NTT. Dalam dokumen itu disebut, korban terdaftar sebagai penerima bantuan beasiswa PIP. Sayangnya, petugas Bank BRI Cabang Bajawa secara sepihak membatalkan pencairan dana yang sudah menjadi hak korban itu.
Alasannya, alamat ibu korban yang tertera pada kartu tanda penduduk (KTP) adalah Kabupaten Nagekeo, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngada. Penolakan BRI ini bertentangan dengan pedoman teknis pencairan dana PIP yang bisa dilakukan di mana saja.
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Marsel Robot berpendapat, buruknya sistem menyebabkan kelompok masyarakat miskin selalu menjadi korban. Peristiwa bunuh diri itu tidak terjadi jika kebutuhan pendidikan anak terlayani. Salah satunya bersumber dari bantuan PIP.
Menurut Marsel, banyak anak di NTT mengalami hal serupa, menjadi korban dari sistem yang buruk. Banyak yang akhirnya putus sekolah karena orangtua tidak mampu membiayai. "Ini fenomena gunung es. Pemerintah harus serius, sebab kalau tidak, kejadian ini bisa berulang di masa mendatang," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, korban bunuh diri diduga lantaran putus asa atas kondisi ekonomi keluarga. Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya menjawab: mereka tak punya uang.
Serial Artikel
Anak SD Bunuh Diri di NTT, PDI-P: Potret Kegagalan Negara
Pimpinan parpol di NTT menuding kejadian ini sebagai kegagalan negara. Gubernur NTT murka terkait kasus penuh ironi ini.
Korban mengakhiri hidup di dekat sebuah gubuk pada Kamis (29/1/2026). Di gubuk itu, korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Korban merupakan anak kelima. Ibu korban adalah seorang janda yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.
Korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan itu ditemukan sekitar lokasi kejadian. Berikut bunyi surat korban dalam bahasa Ngada.
KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEE
MAMA MOLO JA’O
GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA
MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE
MOLO MAMA
Artinya
SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)
TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA
Peristiwa itu dinyatakan murni tindakan bunuh diri. "Kesimpulan itu diambil berdasarkan hasil olah tempat kejadian serta visum terhadap jenazah korban. Selain itu juga pemeriksaan terhadap sejumlah saksi," kata Kepala Polres Ngada Ajun Komisaris Besar Andrey Valentino.
Menurut dia, tim penyelidik telah berkerja secara maksimal untuk mengungkap secara pasti penyebab kematian korban. Diakuinya, banyak pihak sempat meragukan bahwa korban yang usianya baru 10 tahun itu dapat melakukan aksi bunuh diri.
Serial Artikel
Anak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara
Harga buku tulis serta pena itu kurang dari Rp 10.000. Keluarga miskin ekstrem tak punya cukup uang untuk membelinya.




