JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah dorongan gentengisasi yang ingin menghadirkan hunian lebih nyaman, pilihan warga bergerak ke arah berbeda.
Atap-atap praktis yang cepat terpasang masih menjadi jawaban paling realistis bagi banyak keluarga.
Genteng tanah liat yang dulu akrab kini mulai tergeser material lain yang dianggap lebih ringkas dan cepat dipasang.
Ari (47), seorang mandor bangunan di Jakarta Utara, melihat langsung pergeseran itu sejak lama.
Baca juga: Soal Gentengisasi Prabowo, Tukang Ungkap Kelebihan dan Kekurangan Genteng untuk Atap
Ia menyebut banyak warga memilih asbes atau bahan modern lain karena lebih praktis dalam pengerjaan.
"Kalau orang milih yang mau pakai asbes karena sangat ringkas, kerjanya sangat singkat, cepat. Kalau pakai genteng agak lama," tuturnya saat ditemui Kompas.com, Kamis (4/2/2026).
Menurut Ari, pertimbangan waktu dan biaya tenaga kerja menjadi alasan utama.
Pemasangan genteng membutuhkan material jauh lebih banyak dibandingkan asbes.
“Kalau genteng kan 200 genteng, kalau asbes bisa delapan sampai 10 asbes doang,” kata dia.
Selain itu, struktur penopang genteng harus dipasang lebih rapat sehingga menambah waktu dan ongkos pekerjaan.
Baca juga: Pramono Patuh Arahan Prabowo, Rumah Baru Jakarta Tak Boleh Lagi Pakai Seng
“Kalau kita pakai genteng, belum masang reng-nya, reng-nya kan dempet-dempet. Kalau pakai asbes jarak berapa meter baru reng lagi, cepat, ringkas,” jelasnya.
Ia menyebut peralihan ke material yang lebih praktis sudah terasa sejak dekade 2000-an.
Faktor efisiensi membuat warga perlahan meninggalkan genteng.
“Mulai tahun 2000-an orang beralih. Praktis aja, cepat. Kalau lama-lama kan bayar tukangnya nambah,” katanya.