Perdebatan mengenai pengembangan industri teknologi tinggi di Indonesia—termasuk semikonduktor—sering kali berujung pada kesimpulan yang sama: keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Rendahnya proporsi lulusan STEM, minimnya minat generasi muda pada sains dan teknik, serta kualitas pendidikan tinggi kerap dianggap sebagai faktor utama yang menghambat pertumbuhan industri ini.
Kesimpulan tersebut terdengar masuk akal. Namun jika ditelaah lebih dalam dan dibandingkan dengan pengalaman negara lain, khususnya di Asia Tenggara, penjelasan ini berisiko menyederhanakan persoalan dan mengarahkan kebijakan ke sasaran yang kurang tepat.
Pengalaman Asia Tenggara: Industri sebagai Pemicu, Bukan AkibatPengalaman Malaysia [1,2], Vietnam [3], dan Thailand [4,5] menunjukkan bahwa pengembangan industri teknologi tinggi tidak diawali oleh kesiapan SDM yang ideal. Negara-negara tersebut terlebih dahulu membangun ekosistem investasi yang menarik bagi pemain industri global, melalui penyederhanaan birokrasi, kepastian hukum, konsistensi kebijakan, serta insentif yang jelas.
Kehadiran industri kemudian menciptakan permintaan nyata terhadap tenaga kerja terampil. Perusahaan multinasional melatih tenaga kerja lokal melalui program internal, mengirim engineer muda untuk pelatihan di negara asal perusahaan, dan secara bertahap membangun kapasitas nasional. Dalam pola ini, SDM berkembang sebagai konsekuensi dari industrialisasi, bukan sebagai prasyarat awalnya.
Jika kekurangan SDM dijadikan penjelasan utama stagnasi industri, maka terjadi pembalikkan hubungan sebab-akibat. Tanpa industri yang nyata, institusi pendidikan tidak memperoleh sinyal pasar yang jelas, mahasiswa tidak melihat jalur karier yang konkret, dan investasi pendidikan kehilangan konteks aplikatifnya.
Tidak Semua Keahlian Dapat Dibentuk Secara CepatMeski demikian, tidak semua jenis keahlian dalam industri teknologi tinggi dapat dibangun dengan pendekatan yang sama. Untuk pekerjaan yang bersifat operasional dan manufaktur—seperti perakitan, pengujian, atau pemeliharaan—pelatihan berbasis industri relatif dapat dilakukan dalam waktu singkat dan dalam skala besar.
Namun, untuk keahlian yang membutuhkan kedalaman pengetahuan dan pengalaman jangka panjang, seperti desain chip tingkat lanjut, arsitektur sistem, rekayasa material semikonduktor, atau teknologi litografi, pendekatan tersebut tidak memadai. Keahlian ini terbentuk melalui pengalaman bertahun-tahun di pusat-pusat keunggulan global, melalui keterlibatan langsung dalam proyek industri kompleks dan berisiko tinggi.
Diaspora sebagai Infrastruktur PengetahuanAlih-alih memandang kondisi ini sebagai brain drain, pendekatan yang lebih produktif adalah melihat diaspora sebagai aset strategis. Negara-negara yang berhasil mengembangkan industri teknologi tinggi memanfaatkan diaspora sebagai pembawa tacit knowledge—pengetahuan implisit yang tidak mudah ditransfer melalui kurikulum formal atau pelatihan singkat.
Karena itu, strategi pengembangan SDM tidak cukup hanya berfokus pada pendidikan domestik. Yang dibutuhkan adalah infrastruktur jaringan diaspora yang memungkinkan keterhubungan berkelanjutan antara talenta Indonesia di luar negeri dengan ekosistem nasional, melalui kolaborasi riset, proyek industri bersama, atau peran sebagai penghubung teknologi.
Mengirim Talenta ke Luar Negeri sebagai Strategi NasionalLebih jauh, mendorong lulusan terbaik perguruan tinggi Indonesia untuk melanjutkan studi atau berkarier di pusat-pusat keunggulan global perlu dipandang sebagai strategi rasional jangka panjang, bukan kegagalan kebijakan SDM. Dalam industri teknologi tinggi, akumulasi keahlian membutuhkan waktu, eksposur, dan lingkungan yang hanya tersedia di ekosistem industri yang sudah matang.
Pendekatan ini menekankan pentingnya penanaman keahlian, bukan kepulangan cepat. Yang perlu dijaga adalah keterhubungan dengan Indonesia selama masa pengembangan karier tersebut, sehingga ketika industri nasional telah siap, terdapat basis SDM berpengalaman yang memiliki alasan profesional—bukan sekadar emosional—untuk kembali.
Tantangan Utama: Ekosistem, Bukan Semata-mata SDMDengan demikian, pertanyaan kebijakan yang lebih relevan bukanlah “mengapa SDM Indonesia kurang?”, melainkan “mengapa ekosistem industri nasional belum cukup menarik bagi SDM terbaik Indonesia?”
Jika Indonesia ingin membangun industri semikonduktor dan teknologi tinggi lainnya, fokus awal perlu diarahkan pada perbaikan ekosistem investasi: kepastian hukum, penyederhanaan birokrasi, konsistensi kebijakan, dan penciptaan permintaan domestik yang kredibel. Pelatihan SDM dapat berjalan secara paralel seiring pertumbuhan industri, sementara keahlian tingkat lanjut dapat disiapkan melalui strategi diaspora dan eksposur global jangka panjang.
Menunggu SDM siap sebelum industri hadir bukanlah kehati-hatian, melainkan pendekatan yang berisiko memperpanjang stagnasi. Pengalaman industrialisasi menunjukkan bahwa yang tumbuh lebih dahulu bukanlah manusianya, melainkan ekosistem yang memungkinkan manusia untuk tumbuh—dan pada akhirnya memilih untuk kembali.





