Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan, tidak ada ruang bagi politik warisan jabatan di tubuh Partai Golkar. Ia menekankan prinsip meritokrasi dan kinerja sebagai dasar utama dalam penempatan kader.
Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya pada Training of Trainers Sosialisasi 4 Pilar MPR pada Jumat (6/2) di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat.
“Jujur sekarang itu adalah kita memprioritaskan orang yang memenuhi PDLT. Yang bisa bekerja. Enggak bisa lagi kita berpikir karena dia anak ini, dia anak teman saya, dia sahabat saya, udah lah. Bahkan mungkin dalam rolling-rolling fraksi, bagi yang tidak perform, sekalipun dia teman kita, Pak Sarmuji, ya sudah kita harus cari pemain pengganti. Karena di Golkar ini, semua striker,” kata dia.
Bahlil mengibaratkan Golkar seperti tim futsal yang seluruh pemainnya adalah striker. Pergantian pemain, menurutnya, bisa dilakukan kapan saja demi mencapai tujuan bersama.
“Ini seperti main futsal, tidak mesti habis pertandingan baru ganti pemain. Tiga menit, capek, keluar, baru masuk. Tujuannya kan golnya. Jadi jangan juga dianggap jabatan ini seperti warisan. Enggak boleh,” sambungnya.
Begitu juga dengan jabatannya selaku Menteri Ekonomi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Ia mengaku siap dievaluasi selama kinerjanya dinilai tidak memenuhi harapan.
“Saya pun kalau tidak perform, bisa dievaluasi oleh Presiden. Tapi selama perform, sorry ye. Kan begitu," ujar dia.
"Hidup itu harus fair. Maunya bertahan terus, tapi satu saat kalau yang menilai kita udah enggak, ya sudah siap, dengan gentle gitu loh. Kita kan diajarkan jadi pemimpin itu begitu. Makanya meritokrasi dipakai. Belajar dipakai,” pungkas Bahlil.




