FAJAR, MAKASSAR — Kekalahan demi kekalahan memang terlihat di papan skor. Namun bagi PSM Makassar, tekanan musim ini tak hanya datang dari dalam lapangan.
Ada beban lain yang berjalan paralel: sanksi, denda, dan situasi eksternal yang perlahan menggerus stabilitas tim.
Yang terbaru, Komite Disiplin PSSI menjatuhkan denda Rp60 juta kepada PSM Makassar setelah insiden suporter memasuki lapangan usai laga melawan Semen Padang FC di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare.
Dalam putusan resmi, Komdis menyebut aksi tersebut terjadi saat pemain masih berada di area pertandingan. Tindakan itu dinilai melanggar regulasi dan berpotensi mengganggu keamanan.
“Setiap tindakan yang mengganggu keamanan pertandingan akan dikenai sanksi sesuai kode disiplin yang berlaku,” demikian kutipan dalam dokumen tersebut.
Komdis juga memberi peringatan keras: pelanggaran berulang bisa berujung pembatasan jumlah penonton atau denda tambahan.
Bagi klub yang sedang berjuang bangkit, ini bukan sekadar angka Rp60 juta. Ini tambahan tekanan psikologis dan administratif.
Musim yang Terasa Berat Sejak Awal
PSM sebenarnya sudah lebih dulu diterpa persoalan non-teknis sejak awal musim. Sanksi FIFA sempat menghambat proses administrasi pemain baru. Situasi itu berdampak pada komposisi skuad dan kedalaman tim.
Ketika pembenahan baru mulai dilakukan, badai lain datang: cedera dan akumulasi kartu.
Pelatih Tomas Trucha bahkan mengaku terkejut dengan situasi yang dihadapinya.
“Saya terkejut dengan banyaknya suspend dan cedera yang melanda kami. Jadi kami hanya berupaya melakukan yang terbaik dan menggunakan pemain yang tersedia,” ujarnya.
Dalam enam pertandingan terakhir, PSM gagal meraih kemenangan. Dari potensi 18 poin, mereka hanya mengumpulkan satu angka.
Kini, Pasukan Ramang tertahan di peringkat 13 dengan 19 poin dari 18 laga. Jarak mereka hanya tujuh poin dari zona degradasi, sementara selisih ke posisi lima besar mencapai 13 poin.
Ironisnya, target lima besar sebelumnya sempat disampaikan Trucha ke publik.
“Kami menargetkan bisa finish di peringkat lima klasemen akhir kompetisi,” katanya beberapa waktu lalu.
Namun sejak target itu diumumkan, performa justru menurun. Tekanan ekspektasi bertemu dengan realitas cedera dan sanksi.
Psikologi Tim yang Teruji
Sepak bola bukan hanya soal taktik dan teknik. Ia juga tentang suasana, mental, dan stabilitas.
Ketika suporter kecewa hingga turun ke lapangan, itu adalah sinyal bahwa relasi emosional sedang tegang.
Anggota Komunitas VIP Utara (KVU), Sulyadi Abbas, menyuarakan harapan yang sederhana namun krusial.
“PSM sudah harus menang, jangan imbang atau kalah terus. Meski pun mungkin sulit mengejar tim di atas, setidaknya bisa terhindar dari degradasi.”
Menurutnya, satu kemenangan saja bisa memulihkan mental.
“Kalau menang satu kali saja, pasti mental pemain bagus dan semangat mereka bisa kembali.”
Pernyataan itu menggambarkan situasi yang rapuh. Ketika kepercayaan diri turun, permainan ikut terpengaruh. Ketika tekanan eksternal meningkat, fokus bisa terganggu.
Lebih dari Sekadar Taktik
PSM kini menghadapi dua medan sekaligus: lapangan dan luar lapangan.
Di dalam lapangan, mereka harus memperbaiki finishing, transisi, dan konsistensi.
Di luar lapangan, mereka harus menjaga disiplin, keamanan pertandingan, serta stabilitas manajerial.
Jika faktor non-teknis terus muncul, ruang bagi tim untuk fokus mengejar target akan semakin sempit.
Musim belum selesai. Namun pesan dari rentetan peristiwa ini jelas: membangun kembali performa bukan hanya soal siapa yang bermain, tetapi juga bagaimana klub mengelola tekanan secara menyeluruh.
PSM Makassar kini bukan hanya sedang mencari kemenangan.
Mereka sedang berusaha memulihkan keseimbangan.

:quality(80):format(jpeg)/posts/2026-02/06/featured-bcdfbf72bb2fabd803d1f5db5bd73f4b_1770358566-b.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5494667/original/088840600_1770307169-20260205BL_Timnas_Futsal_Indonesia_Vs_Jepang_AFC_Futsal_Asian_Cup_2026-74.jpg)

