BEKASI, KOMPAS.com – Besarnya potongan dan biaya tambahan dari aplikasi ojek online membuat sebagian pengemudi harus memperpanjang jam kerja demi memenuhi target penghasilan harian.
Dalam kondisi tersebut, pengemudi nyaris tidak memiliki pilihan selain mengikuti kebijakan platform agar tetap mendapatkan order.
Situasi ini dirasakan Irsan (30), pengemudi ojek online yang ditemui di sekitar Stasiun Bekasi. Ia mengaku sudah satu setengah tahun menekuni profesi tersebut secara penuh waktu setelah kontrak pekerjaannya sebagai surveyor analisis kendaraan berakhir.
Baca juga: Tergerus Potongan Aplikasi, Pengemudi Ojol di Bekasi Harus Kerja hingga 17 Jam Sehari
“Saya driver ojek online full time. Awal mula terjun karena habis kontrak dari pekerjaan sebelumnya,” ujar Irsan saat ditemui Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Menurut Irsan, pekerjaan sebagai pengemudi ojek online memang menawarkan fleksibilitas waktu dan minim tekanan atasan. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, terdapat beban potongan aplikasi yang cukup besar.
Saat ini, potongan yang diterapkan platform berkisar antara 20 hingga 25 persen per perjalanan. Selain potongan per trip, pengemudi juga dibebani biaya langganan tertentu yang harus dibayar secara berkala.
“Biaya langganan itu ibaratnya kalau kami dapat 10 orderan dipotong Rp20.000. Memang kelihatannya untung, tapi kan semua modal di lapangan dari kita sendiri. Atribut, bensin, kuota, semua kita yang keluarin,” ujar Irsan.
Ia mengakui, keberadaan biaya langganan tersebut kerap membingungkan pengemudi. Namun, karena sistem aplikasi yang mengikat, para driver tidak memiliki banyak ruang untuk menolak.
“Kalau kami enggak ikut programnya, kami susah juga dapat order. Jadi mau enggak mau ya kita sebagai driver hanya bisa mengikuti,” ucapnya.
Baca juga: Tetap Bersyukur meski Tercekik Potongan Aplikasi, Ojol Rudi: Yang Penting Bawa Pulang Uang
Besarnya potongan dan biaya tambahan tersebut berdampak langsung pada jam kerja. Irsan mengatakan, kini ia harus menarik penumpang hingga larut malam untuk mengejar target pendapatan harian yang sama seperti sebelumnya.
“Yang tadinya target Rp200.000 sampai Rp300.000 itu dari pagi sampai sore atau malam jam 8, sekarang bisa sampai jam 10 atau jam 11 malam,” katanya.
Dalam kesehariannya, Irsan mulai bekerja sejak pukul 08.00 WIB dan baru pulang sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, tergantung capaian penghasilan. Dalam satu hari, ia bisa menyelesaikan sekitar 19 hingga 21 orderan.
“Target saya bukan di trip, tapi di rupiah. Kalau sudah pegang Rp250.000 buat bensin, makan, dan kebutuhan harian, ya saya pulang,” ujar Irsan.
Irsan berharap kesejahteraan pengemudi dapat ditingkatkan, salah satunya dengan menghapus biaya langganan serta mengalihkan pembayaran BPJS agar ditanggung oleh perusahaan, seperti sistem kerja formal.
“Pengennya biaya langganan dihilangin, BPJS enggak prabayar dari kami. Kayak kerja di PT, gaji sudah bersih, BPJS ditanggung kantor,” kata dia.
Baca juga: Paket Hemat di Aplikasi Bikin Ojol Menjerit, Driver: Dihilangin Aja




:strip_icc()/kly-media-production/medias/2910533/original/077656200_1568366471-20190913_154149_resized.jpg)