Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dihadapkan pada sederet tantangan usai melaporkan kinerja keuangan 2025 yang berada di atas ekspektasi.
Sarah Jane Mahmud, Senior Industry Analyst di Bloomberg Intelligence, menilai bahwa
pertumbuhan laba Bank Mandiri akan tetap berada di bawah tekanan karena tantangan yang meningkat pada 2026.
“Margin diperkirakan akan menyusut karena imbal hasil aset yang lebih rendah, dengan bank sentral siap untuk melakukan dua kali lagi pemotongan suku bunga kebijakan hingga akhir tahun,” jelasnya dalam laporan Bloomberg Intelligence, Jumat (6/1/2026).
Kendati begitu, Sarah Jane meyakini bahwa tekanan tersebut dapat mereda dalam beberapa kuartal mendatang karena penyesuaian bunga deposito dan pengurangan ketergantungan pada pendanaan grosir (wholesale).
Dia juga memperkirakan, pertumbuhan kredit BMRI dapat melambat ke angka satu digit tinggi karena bank memperketat kriteria penyalurannya demi menyeimbangkan pinjaman. Pada saat yang sama, perseroan akan menghimpun deposito dengan lebih baik dalam upaya untuk meningkatkan profil risiko kredit dan likuiditasnya.
Baca Juga
- Goldman Sachs dan Sederet Sekuritas yang Kerek Target Harga Saham BMRI
- IHSG Dibuka Ambrol, Saham Bank Jumbo BMRI-BBCA hingga BUMI ke Zona Merah
- Kontribusi BSI (BRIS) ke Laba Bank Mandiri (BMRI) Capai Rp7,56 Triliun
Di sisi lain, Sarah Jane memperkirakan BMRI juga akan dihadapkan pada iklim persaingan yang kian ketat, termasuk dari bank digital yang akan menjadi lebih menonjol.
“Kualitas aset diperkirakan akan tetap relatif stabil karena penjaminan yang lebih ketat, tetapi peningkatan produk murah dari China dapat mengikis profitabilitas usaha kecil,” pungkasnya.
Berdasarkan pemberitaan Bisnis sebelumnya, Bank Mandiri membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik senilai Rp56,3 triliun secara konsolidasi pada 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) senilai Rp55,78 triliun.
Pada periode yang sama, BMRI membukukan kredit senilai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% YoY. Pada sisi himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat senilai Rp2.106 triliun atau naik 23,9% YoY dengan pertumbuhan dana murah sebesar 12,6% YoY senilai Rp1.431 triliun.
Realisasi kredit tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis. Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% YoY sepanjang 2025, di saat pertumbuhan secara industri melambat.
Secara terpisah, David Chong dan Andrey Wijaya, analis Sekuritas RHB Sekuritas, menjelaskan bahwa kinerja keuangan Bank Mandiri pada kuartal IV/2025 melampaui ekspektasi pihaknya. Kinerja sepanjang 2025 pun dipandang relatif lebih baik dari panduan perseroan, khususnya terkait pertumbuhan kredit dan biaya kredit, sedangkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sesuai dengan perkiraan.
“Pertahankan rekomendasi BELI, dengan target harga baru Rp5.920 (dari Rp5.300), potensi kenaikan 17%, dan yield 9%,” jelas David dan Andrey dalam risetnya, Jumat (6/1/2026).
Setali tiga uang, Erni Marsella Siahaan, analis Ciptadana Sekuritas Asia, mengungkapkan bahwa hasil kinerja BMRI sepanjang 2025 yang lebih kuat dari perkiraan menjadi alasan pihaknya merevisi naik target harga saham perseroan.
“Kami merevisi harga target kami menjadi Rp6.150/saham, yang menyiratkan 1,9x PBV FY26F. Kami mempertahankan peringkat Beli kami untuk BMRI, didukung oleh kinerja pendapatan yang tangguh, manajemen biaya yang disiplin, dan kualitas aset yang solid,” jelas Erni, Jumat (6/1/2026).
------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





