JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik gemerlap gedung pencakar langit Jakarta Pusat, realitas lain tersaji di Jalan Bakti, RW 01, Cideng, Gambir, tepat di belakang Stasiun Tanah Abang.
Puluhan rumah terpal dan gerobak berdiri di lahan sempit sepanjang sekitar 300 meter, menandai kehidupan warga yang terus bertahan di tengah ketidakpastian.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean mengatakan, penertiban di Jalan Bakti sudah dilakukan berkali-kali.
Baca juga: Ironi Jalan Kebon Sirih: Pusat Pemerintahan dan Bisnis, tapi Jalan Rusak Hanya Ditambal
“Kita sudah berikan peringatan kepada mereka, dan sosialisasi dari lurah juga sudah dilakukan. Setelah itu, kita lakukan penertiban,” ujar Purnama saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/2/2026).
Namun, penertiban tidak selalu berjalan mulus. Lokasi ini berada di bawah pengawasan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan sisi kiri lahan merupakan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Terkadang alat berat dibutuhkan untuk menertibkan, tapi koordinasi dengan Dinas Sosial, PUPR, dan KAI juga diperlukan,” tambahnya.
Meski begitu, warga Jalan Bakti tampaknya memiliki daya tahan yang kuat.
Setelah rumah mereka dibongkar atau ditertibkan, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali membangun rumah terpal di lahan yang sama, mempertahankan tempat tinggal mereka di jantung kota.
Lokasi dan Kondisi Permukiman
Permukiman ini berada di belakang Stasiun Tanah Abang, dekat JPO Jatibaru. Lokasinya strategis, menghubungkan Stasiun Karet menuju Roxy dan Grogol, Jakarta Barat, melalui jalur tikus yang sering dilewati sepeda motor.
Kondisi rumah di wilayah ini jauh dari layak. Setiap bangunan rata-rata hanya berukuran tiga meter persegi.
Baca juga: Getir Hidup Warga Pinggir Stasiun Tanah Abang, Tinggal di Rumah Terpal Tanpa MCK
Dinding rumah bukan dari bata atau semen, tetapi terpal plastik tipis yang direntangkan di atas rangka kayu bekas.
Di dalamnya, satu ruang kecil menampung segala kebutuhan, baju digantung seadanya, beberapa alat makan di satu sudut, dan kasur tipis atau sofa robek menjadi tempat tidur seluruh anggota keluarga.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Kondisi bagian dalam hunian terpal yang sempit dan hanya beralaskan kasur bekas menjadi tempat istirahat warga di belakang Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).
Udara pengap, lorong sempit, dan kebisingan kereta api menjadi teman sehari-hari. Namun, bagi penghuninya, rumah terpal ini adalah benteng terakhir dari dinginnya malam Jakarta. Warga Tetap Bertahan
Hasan (80) merupakan salah satu warga asli Jalan Bakti. Ia lahir pada 1945 dan telah menyaksikan puluhan tahun perubahan lingkungan.
“Saya lahir tahun kemerdekaan Indonesia. Jadi sekarang sudah 80 tahun. Kita semua meski tinggal di pinggiran, tapi punya KTP, punya semuanya,” kata Hasan sambil menunjukkan KTP DKI saat ditemui langsung oleh Kompas.com di Jalan Bakti, Kamis.