Suara Perempuan Pesisir Takalar Dipresentasikan di SustainWell 2026

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR-Dr. Ishak Salim, Dosen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Hasanuddin sekaligus Research Fellow INTI International University, mempresentasikan hasil risetnya dalam 1st International Conference on Sustainable Living and Community Wellness (SustainWell 2026)—sebuah konferensi internasional yang digelar secara hybrid di INTI International University, Nilai, Malaysia, dan dihadiri peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara.

Dalam konferensi yang mengusung tema “Building Healthy Communities for a Sustainable Future”, Dr. Ishak membawa suara perempuan pesisir Takalar—kelompok yang selama ini bekerja keras dalam rantai nilai rumput laut namun tetap kurang terlihat dalam kebijakan pembangunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan feminisme, menggabungkan Teori Performativity Judith Butler dan 3 dimensi keadilan Nancy Fraser: redistribusi, rekognisi, dan representasi.

Melalui temuan lapangan, Dr. Ishak menunjukkan bagaimana norma “laki-laki di laut, perempuan di darat” terbentuk dari praktik berulang dan membatasi ruang kerja perempuan. Di sisi lain, perempuan justru memegang peran penting menjaga kualitas rumput laut melalui pekerjaan mengikat, menjemur, dan membersihkan. “Kami duduk mengikat sampai sore; badan pegal, pinggang dan lutut sakit,” ujar seorang perempuan Laikang, menggambarkan kerja repetitif yang jarang diakui nilainya.

Ketergantungan pada punggawa juga memperlihatkan ketidakadilan struktural. Banyak keluarga petani menerima talangan modal yang kemudian dipotong saat panen, sementara penilaian kualitas berada di tangan pengepul dan pabrik. Salah satu perempuan di Laikang berkata, “Kalau pelabuhan atau pabrik jadi, kami tidak bisa lagi bikin rumput laut,” menegaskan kekhawatiran terhadap proyek KIT (Kawasan Industri Takalar) yang berpotensi mengalihfungsikan ruang hidup mereka, di pesisir Mangarabombang.

Dr. Ishak menekankan bahwa perempuan pesisir tidak hanya pekerja, tetapi juga pemilik pengetahuan ekologis—dari musim, arus, hingga standar pengeringan—yang seharusnya menjadi dasar kebijakan. Ia juga mendorong reformasi melalui akses permodalan mikro, kontrak kolektif, pelatihan mutu, serta kuota representasi perempuan dalam musrenbang dan konsultasi AMDAL.

Penutup pesannya sederhana: pembangunan pesisir yang adil gender hanya bisa tercapai bila perempuan diberikan ruang, hak, dan pengakuan sebagai aktor utama. Masa depan rumput laut Takalar tidak hanya ditentukan cuaca dan pasar, tetapi juga keberanian untuk menjadikan perempuan sebagai pusat kebijakan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megaproyek Kilang Tuban Rp377 Triliun Butuh Pemodal Baru
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Adu Tajam Penyerang Persib Vs Malut United di BRI Super League: Andrew Jung Vs David da Silva, Ancaman Sang Mantan
• 18 jam lalubola.com
thumb
Wamensos Bicara Sekolah Rakyat Jadi Solusi Cegah Tragedi Siswa di Ngada Terulang
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
OTT Hakim di Kota Depok Jabar, KPK Sita Uang Ratusan Juta
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Penelitian Terbaru: Jupiter Ternyata Lebih Kecil dari Perkiraan, ini Penjelasannya
• 6 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.