Menenun Peradaban dalam Diplomasi Megawati Soekarnoputri

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Selama satu minggu, sejak tanggal 1 hingga 6 Februari 2026, saya berkesempatan mendampingi Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan dalam lawatan luar negeri ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka memenuhi undangan Zayed Award for Human Fraternity serta undangan khusus dari Putra Mahkota UEA, Yang Mulia Syaikh Khaled bin Muhammad Zayed Al Nahyan.

Dalam perjalanan tersebut, saya menangkap banyak pesan moral dan kebangsaan yang sangat berharga. Kesan-kesan itu terasa terlalu naif jika hanya disimpan sebagai pemahaman pribadi. Karena itu, saya memutuskan untuk membagikannya kepada publik melalui tulisan sederhana ini.

Di tengah riuh rendah politik global yang kerap didominasi oleh logika kekuatan material dan strategi garis keras, sebuah narasi berbeda memancar dari Abu Dhabi pada 3 hingga 5 Februari 2026. Narasi ini berangkat dari keyakinan lama bangsa-bangsa Selatan bahwa dunia tidak harus diatur oleh dominasi, melainkan dapat ditata melalui solidaritas, martabat, dan keberanian moral.

Megawati Soekarnoputri, Sang Nareswari, personifikasi kepemimpinan perempuan agung dalam khazanah Nusantara, melangkah bukan semata sebagai utusan politik, melainkan sebagai pembawa pesan peradaban yang berakar pada sejarah, kebudayaan, dan rasa kemanusiaan yang lahir dari kristalisasi pengalaman bangsanya sendiri.

Di jantung UEA, Megawati hadir bukan untuk menegosiasikan kepentingan sempit negara atau golongan, melainkan untuk menghidupkan kembali dimensi etik dan moral dalam hubungan antarbangsa.

Dalam dunia yang semakin pragmatis, kehadirannya menjadi pengingat bahwa diplomasi sejati tidak hanya berbicara tentang kuasa, tetapi juga tentang nurani. Inilah wajah diplomasi yang sejak lama diperjuangkan Bung Karno: diplomasi yang menolak tunduk pada blok-blok kekuatan, dan memilih berdiri sebagai suara hati nurani yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.

Diplomasi yang Mengasuh dan Simfoni Persaudaraan

Kunjungan ini melampaui sekat-sekat protokoler dalam ajang Zayed Award for Human Fraternity. Di forum tersebut, Megawati menenun kembali benang-benang kemanusiaan yang kerap terkoyak oleh ego ideologi dan rivalitas geopolitik. Dengan membawa ruh Pancasila, ia menegaskan perbedaan bukanlah retakan yang mengancam, melainkan mozaik yang justru memperindah wajah dunia.

Keteguhan prinsip inilah yang mengundang rasa hormat para pemimpin dunia, sehingga Grand Imam Al-Azhar Mesir Prof Ahmed Thayeb, dan almarhum Sri Paus Fransiskus mengangkat Megawati sebagai anggota Dewan Juri Zayed Award pada tahun 2024.

Berkat wibawa dan pengaruh Megawati dalam Dewan Juri tersebut, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berhasil menjadi pemenang Zayed Award tahun 2024-sebuah pengakuan global atas Islam Indonesia yang moderat dan berkemajuan.

Di sela-sela agenda resmi, Megawati juga menerima kunjungan kehormatan sejumlah tokoh internasional, mulai dari Presiden Timor Leste José Ramos-Horta hingga mantan Presiden Kosovo, serta tokoh-tokoh dunia lainnya, termasuk para pemenang Zayed Award tahun 2026.

Pertemuan-pertemuan hangat di Abu Dhabi itu menegaskan satu hal penting: kepemimpinan yang berakar pada nilai kemanusiaan memiliki daya magnet yang melampaui batas jabatan formal, sekat ideologi, bahkan perbedaan agama.

Api Islam dan Estafet Pemikiran

Puncak diplomasi ini terpatri dalam pertemuan Megawati dengan Putra Mahkota Uni Emirat Arab, Yang Mulia Syaikh Khaled bin Muhammad bin Zayed Al Nahyan. Dalam suasana yang akrab namun sarat makna, Megawati menyingkap akar kepemimpinannya.

"Bung Karno telah mengajarkan saya pentingnya keteguhan, keyakinan, kesabaran, dan keberanian. Inilah nilai-nilai yang melandasi saya dalam menjaga Indonesia,"

Pernyataan ini bukan sekadar nostalgia personal, melainkan penegasan garis ideologis. Bagi Bung Karno, diplomasi internasional adalah medan perjuangan nilai, bukan semata arena tawar-menawar kepentingan.

Semangat inilah yang kini diteruskan Megawati, dengan menempatkan Indonesia sebagai jembatan peradaban antara dunia Islam dan Kristen, serta komunitas global yang lebih luas.

Kekaguman Putra Mahkota terhadap Bung Karno melahirkan momen simbolik yang mendalam. Putra kedua Megawati sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Prananda Prabowo, menyerahkan buku Api Islam Bung Karno yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Duduk berdampingan dengan Putra Mahkota, Prananda menjelaskan esensi pemikiran Bung Karno:

"Api Islam Bung Karno menegaskan bahwa Islam adalah agama yang hidup, bergerak, dinamis, dan berkemajuan. Islam harus digali apinya, bukan abunya,"

Penyerahan buku ini bukan sekadar pertukaran artefak intelektual, melainkan transfer energi pemikiran lintas zaman dan lintas geografis.

Ia memperkenalkan Islam Nusantara yang moderat dan progresif ke jantung dunia Arab, sebuah upaya membangun jembatan spiritual antara samudra maritim dan samudra pasir, antara tradisi dan modernitas.

'Bung' dan Filosofi Kesetaraan

Melengkapi dimensi intelektual tersebut, Megawati memperkenalkan istilah 'Bung' kepada khalayak internasional dalam kesempatan sebagai pembicara Forum Majelis Zayed bersama tokoh-tokoh perempuan dunia lainnya.

Di balik kesederhanaannya, istilah 'Bung' menyimpan filsafat dekolonialisasi yang radikal. 'Bung' adalah panggilan yang meniadakan jarak antara pemimpin dan rakyat, menolak hierarki feodal, serta menegaskan kesetaraan sebagai fondasi kemerdekaan.

Di halaman buku tamu Kedutaan Besar Republik Indonesia, Megawati menuliskan satu kata kunci: Sabar. Bagi Megawati, sabar bukanlah sikap pasif, melainkan disiplin politik yang menuntut ketahanan batin.

Dalam dunia yang serba reaktif dan impulsif, kesabaran justru menjadi bentuk keberanian tertinggi. Kesabaran revolusioner adalah salah satu ciri keistimewaan kepemimpinan Megawati sejak dahulu hingga saat ini.

Jejak Teduh bagi Peradaban

Kunjungan di Abu Dhabi ini menegaskan ciri khas diplomasi Megawati: nurturing diplomacy-diplomasi yang mengasuh. Ia tidak berbicara dengan bahasa kepentingan, melainkan dengan bahasa sejarah, etika, dan empati yang merawat ruang dialog.

Jika generasi pendiri bangsa berbicara tentang nation and character building, maka Megawati memperluas cakrawala itu ke ranah world and character building. Pancasila, dalam tafsir dan praksisnya, menjelma sebagai tawaran etis bagi dunia yang tengah dilanda krisis makna, krisis identitas, serta krisis keberlanjutan ekologis.

Di tengah dunia yang kian bising oleh pertarungan kepentingan, jejak Megawati Soekarnoputri terasa lirih, namun membekas. Ia membuktikan di tangan pemimpin yang memahami luka peradaban, diplomasi tidak berhenti pada transaksi kepentingan, melainkan bergerak menuju transformasi batin bangsa-bangsa-sebuah jejak teduh Sang Nareswari, yang merawat peradaban dengan kasih, kesabaran, dan keberanian sejarah.

Abu Dhabi, 6 Februari 2026

Dr Ahmad Basarah, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI




(akn/ega)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Ditutupi, John Herdman Bicara Jujur soal Biang Kerok Kegagalan Timnas Indonesia di Era Patrick Kluivert
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Jenderal Rusia Ditembak Orang Tak Dikenal hingga Luka-luka di Moskow
• 13 jam laludetik.com
thumb
Foto: Deretan Duit OTT Bea Cukai
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
MA Buka Suara Usai Wakil Ketua PN Depok Kena OTT KPK
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
Prof. Warsinggih Dinyatakan Sah dan Jadi Calon Tunggal Ketua Umum PBSI Sulsel 2026–2030
• 8 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.