jpnn.com - JAKARTA - Hingga saat ini belum tampak figur yang sepadan untuk menjadi penantang Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
Demikian dikatakan analis komunikasi politik Hendri Satrio.
BACA JUGA: Jokowi Ngebet Prabowo-Gibran 2 Periode, Begini Sikap Golkar
Menurutnya, penerimaan publik terhadap Presiden Prabowo masih relatif baik.
Sementara, poros oposisi juga belum menunjukkan tanda-tanda mengajukan tokoh kuat.
BACA JUGA: PKB Mantap Dukung Prabowo 2 Periode, tetapi Belum Tentu Bersama Gibran
"Prabowo hingga saat ini masih diterima dengan baik. Program-program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) masih disukai oleh masyarakat," kata Hensa sapaan akrabnya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (6/2).
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu memaparkan dua alasan yang menurutnya memperkuat penilaian tersebut.
BACA JUGA: Dukungan Gerakan Rakyat kepada Anies untuk Pilpres 2029 Memicu Dinamika di Partai Lain
Pertama, ia melihat respons masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo sejauh ini masih relatif baik, terutama terhadap program-program yang dirasakan langsung.
Kedua, Hensa menilai belum ada figur alternatif yang secara konsisten muncul dengan daya saing kuat untuk mengimbangi Prabowo menuju Pilpres 2029.
Dia mencontohkan partai oposisi pun belum terlihat memanaskan mesin politik untuk memperkenalkan kandidat.
"Bahkan, oposisi seperti PDI Perjuangan belum ada geliat akan mengeluarkan jagoannya per hari ini ya," ujar Hensa.
Di sisi lain, Hensa menilai pembahasan yang justru menarik dalam peta politik ke depan adalah soal siapa yang akan mendampingi Prabowo.
Menurut dia, pilihan pendamping akan sangat menentukan stabilitas pemerintahan sekaligus mempengaruhi peta kompetisi menuju pemilu berikutnya.
"Menurut saya, yang mendampingi Pak Prabowo di 2029 ini ada tiga, antara dari Gerindra, orang yang tidak partai politik, atau orang yang tidak punya ambisi jadi capres," kata Hensa.
Dia mengatakan salah satu opsi adalah figur dari internal Partai Gerindra.
Alasannya, langkah tersebut bisa mencegah efek politik yang membesarkan partai lain di lingkar koalisi, terutama bila belum ada lawan kuat yang muncul dari luar.
"Pak Prabowo akan rugi jika ia memilih calon wapres dari partai lain, karena itu sama saja memberikan panggung bagi partai lain untuk bersinar," katanya.
Selain itu, ia juga membuka kemungkinan Prabowo memilih sosok non-partai atau figur yang tidak memiliki ambisi menjadi calon presiden pada periode berikutnya.
Ia menilai figur yang memiliki ambisi kuat maju sebagai capres berisiko lebih sibuk membangun panggung politik pribadi ketimbang fokus membantu kerja presiden.
"Kalau dia berambisi jadi capres, dia akan sibuk mencari panggung dan tidak fokus membantu kerja presiden," ujar Hensa.
Saat ditanya soal peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ia menilai ada catatan yang perlu dipertimbangkan.
Menurut dia, apabila Gibran memiliki orientasi kuat untuk maju sebagai calon presiden (capres) pada 2034, maka Prabowo seharusnya tidak memilihnya sebagai pendamping.
"Kalau Gibran berambisi jadi capres 2034, sebaiknya Prabowo enggak pilih," tutur Hensa. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu

:strip_icc()/kly-media-production/medias/732366/original/017378800_1409814703-wamen_esdm.jpg)