Sudah Kejatuhan MSCI Tertimpa Moody’s, Investor Ritel Bisa Apa?

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Sudah jatuh tertimpa tangga. Barangkali itulah peribahasa yang menggambarkan situasi pasar modal saat ini. Belum selesai berbenah seusai disorot oleh Morgan Stanley Capital International alias MSCI, pasar kembali terguncang setelah Moody’s Ratings menurunkan peringkat proyeksi kredit Indonesia.

Pada Jumat (6/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.935,26 atau melemah 2,08 persen. Penurunan ini terjadi setelah Moody’s, mengumumkan perubahan proyeksi kredit Indonesia, dari stabil menjadi negatif, pada 5 Februari 2026.

Perubahan tersebut mempertimbangkan ketidakpastian dalam pengambilan kebijakan yang berisiko mengganggu efektivitas dan lemahnya tata kelola kebijakan. Selain itu, koordinasi dan cara komunikasi kebijakan pun semakin melemah. Alhasil, investor melihat adanya peningkatan risiko kredibilitas.

Padahal, IHSG perlahan mulai berbalik menguat setelah pekan lalu ambruk hingga menyentuh level 7.481,99 pada sesi perdagangan 29 Januari 2026. Selama dua hari beruntun, pasar saham bergejolak dipicu oleh rilis MSCI yang menyoroti transparansi dan tata kelola bursa.

Situasi pasar dalam dua pekan ini pun cukup menguras perasaan para investor ritel. Setiap kali menilik portofolio investasi saham dari aplikasi di gawainya, kepala Stephanus (30), warga Kota Tangerang, Banten, terasa pening. Hingga kini, nilai investasinya minus 10,17 persen atau sekitar Rp 1,5 juta.

”Padahal, sudah ngikutin fundamental bluechip, tapi kok justru merah saat yang lain ijo. Tapi, pasca-MSCI, kayaknya yang cukup bertahan cuma yang fundamentalnya jelas, yang dulunya ijo sekarang justru anjlok,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Tak mau ambil pusing dengan kondisi portofolio yang tak kunjung membaik, ia pun memilih untuk menghapus aplikasi perdagangan saham dari gawainya. Baginya, upaya ini lebih membuat mentalnya jauh lebih baik, sembari menunggu pasar berbalik normal untuk menjual saham (cut loss).

Saya adalah orang yang berupaya mengambil peruntungan ketika IHSG anjlok. Tapi, ternyata zonk juga. IHSG seterusnya turun terus. Jadi, bisa dibilang kondisi portofolio turun beriringan dengan turunnya IHSG. Hingga hari ini turun sekitar 10 persen.

Lain cerita dengan Chandra (29), warga Depok, Jawa Barat. Ia justru mencoba mencari peruntungan dengan membeli saham di harga rendah atau menyerok saham, ketika pasar anjlok hingga perdagangan sempat dihentikan sementara (trading halt) seusai rilis MSCI.

”Saya adalah orang yang berupaya mengambil peruntungan ketika IHSG anjlok. Tapi, ternyata zonk juga. IHSG seterusnya turun terus. Jadi, bisa dibilang kondisi portofolio turun beriringan dengan turunnya IHSG. Hingga hari ini turun sekitar 10 persen,” ujarnya.

Padahal, Chandra baru saja kembali menjajal investasi di pasar saham setelah pada April 2025 menarik seluruh dananya. Sebelumnya, ia sudah aktif berinvestasi sejak Oktober 2024 dengan tujuan untuk menabung. Secara rutin, dana yang diinvestasikan rata-rata sekitar 15 persen dari pemasukan bulanan.

Meski menyesal lantaran mengikuti saran dari salah seorang pejabat keuangan untuk membeli saham ketika pasar turun, ia juga sadar akan adanya risiko dalam berinvestasi di pasar saham. Demi menjaga kesehatan mentalnya, Chandra menganggap keputusannya sebagai ikhtiar dalam menabung.

”Mungkin akan lebih cermat lagi dalam mengalokasikan uang untuk menabung. Tampaknya, saham semakin berisiko, apalagi pasar saham Indonesia, dinilai buruk karena banyak masalah,” katanya.

Berbeda lagi dengan Gabriel Owin (27), pekerja swasta di Jakarta, yang cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana investasinya di pasar saham. Belajar dari pengalaman ketika pandemi Covid-19, ia kini lebih memilih emiten-emiten berdasarkan aspek fundamentalnya.

Serial Artikel

Pasar Modal Indonesia Goyang, Investor Ritel Ungkapkan Rasa Kecewa

Ada dua rekomendasi utama MSCI yang patut mendapat perhatian serius pemerintah, yaitu transparansi bursa dan peningkatan porsi ”free float” saham.

Baca Artikel

Kala itu, Owin sempat merasakan nilai investasinya anjlok lantaran tertahan di harga tinggi alias nyangkut. Namun, kini, ia melihat perkembangan IHSG yang telah beberapa kali menembus rekor tertinggi justru tampak anomali atau tidak normal.

”Karena saya lihat saham-saham yang memiliki fundamental bagus, memiliki prospek bagus itu, justru menunjukkan enggak ada kenaikan yang signifikan dari IHSG yang naik ini,” ujarnya.

Kendati demikian, Owin masih cukup optimistis terhadap prospek pasar saham Indonesia ke depan seiring dengan bertambahnya jumlah investor. Menurut dia, kondisi pasar yang bergejolak justru dapat membuka peluang cuan, dengan catatan tetap memperhatikan aspek fundamental.

Pendewasaan pasar

Kondisi pasar dewasa ini memang membutuhkan perbaikan tata kelola, agar layak menjadi tempat bagi masyarakat untuk berinvestasi. Namun, gejolak yang terjadi belakangan turut memberikan pembelajaran bagi para investor untuk semakin dewasa melihat pasar.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada berpendapat, anjloknya pasar modal memberikan cukup waktu kepada investor untuk berbenah menjadi lebih dewasa. Mereka dapat meninjau portofolio saham yang telah dimiliki dan kembali merencakan investasi ke depan.

”Justru penurunan seperti ini akan jadi peluang bagi mereka untuk menambah investasi atau bahkan menjadi latihan kesabaran. Ini juga menjadi momentum pembelajaran karena penurunan sedalam ini biasanya akan diikuti dengan rebound (berbalik menguat) dalam 1 atau 2 minggu berikutnya,” katanya.

Dalam hal ini, investor dapat menyesuaikan kembali (rebalancing) komposisi portofolionya. Misalnya, seorang investor yang memiliki 10 saham dapat menyeleksi secara bertahap berdasarkan pemahaman terkait aspek fundamentalnya menjadi 5 saham.

Ada berbagai macam aspek yang dapat dilihat untuk menilai fundamental saham, salah satunya kondisi keuangan perusahaan, antara lain, harga saham terhadap laba bersih, profitabilitas perusahaan, serta harga saham dengan nilai buku. Langkah ini dapat menentukan harga wajar sebuah saham.

Reza menambahkan, cara paling mudah bagi investor untuk memilih saham adalah dengan melihat underlying-nya. Dalam hal ini, investor dapat memilih emiten yang dapat dilihat secara fisik, baik kantor maupun produk yang dihasilkan.

”Artinya, kita benar-benar paham kondisi perusahaan yang kita beli sahamnya. Bukan karena rekomendasi dari orang lain atau bisikan tetangga. Apalagi, dari wangsit,” ujarnya.

Kita tidak bisa menebak 100 persen benar arah market. Investasi itu bukan jalan cepat kaya karena investasi membutuhkan waktu untuk bekerja secara optimal.

Selain itu, investor pasar saham juga harus memahami risiko terhadap potensi keuntungan yang didapat (risk to reward). Secara sederhana, aspek ini dapat dipahami dengan kerelaan seseorang, baik terhadap kerugian maupun keuntungan, misal 1:2 atau 1 persen kerugian untuk memperoleh 2 persen keuntungan.

Menurut Reza, seluruh aspek tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor untuk tetap bertahan atau memilih untuk menjualnya dengan melihat fundamental. Alhasil, anjloknya pasar saat ini dapat menjadi momentum pembelajaran yang berharga bagi para investor.

Perencanaan

Di sisi lain, aspek yang tidak kalah perlu diperhatikan bagi investor yang masih meraba-raba berinvestasi di pasar saham ialah perencanaan atau pengelolaan keuangan. Setidaknya, aspek ini dapat meminimalkan guncangan mental ketika pasar sedang bergejolak.

Melvin Mumpuni, perencana keuangan sekaligus pendiri Finansialku.com, berpendapat, pola pikir utama yang harus ditanamkan dalam berinvestasi bukanlah prediksi pasar, melainkan pemahaman mengenai perencanaan.

Menurut dia, kepanikan yang muncul ketika pasar bergejolak biasanya dialami oleh investor yang berinvestasi tanpa perencanaan. Hal ini penting untuk menentukan kapan waktu untuk menjual dalam kondisi rugi (cut loss) atau menunggu waktu untuk membeli di harga bawah (average down).

”Kita tidak bisa menebak 100 persen benar arah market. Investasi itu bukan jalan cepat kaya karena investasi membutuhkan waktu untuk bekerja secara optimal,” ujarnya.

Maka dari itu, situasi pasar yang bergejolak seperti saat ini dapat menjadi momentum untuk meninjau cara-cara berinvestasi yang telah dijalankan. Beberapa hal yang diperhatikan, antara lain target yang diharapkan, toleransi risiko yang dapat diterima, serta lama waktu berinvestasi.

Ia menyarankan, dana yang dapat dialokasikan untuk berinvestasi minimal 20 persen dari penghasilan. Lebih daripada itu, penting bagi pemula untuk mempelajari produk investasi dan membangun kebiasaan berinvestasi dengan keuntungan yang konsisten, alih-alih keuntungan besar dalam jangka pendek.

Selain itu, investasi sebaiknya dilakukan dengan menerapkan prinsip diversifikasi produk secara terbatas sesuai dengan kebutuhan. Terdapat beberapa jenis produk investasi dilihat dari fungsinya, antara lain produk yang likuid untuk menjaga portofolio investasi dan memarkirkan dana.

Kemudian, ada juga produk investasi yang bisa memberikan imbal hasil yang tetap dan stabil, seperti obligasi. Lalu, terdapat produk yang memberikan imbal hasil atau pertumbuhan yang maksimal.

”Persentase tentunya akan kembali ke setiap investor sesuai dengan rencana investasi dan kondisi keuangan,” kata Melvin.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dunia Games Gandeng SEGA, Gamers Bisa Tukar Poin dengan Merchandise Sonic
• 14 menit lalukumparan.com
thumb
Pemkab Bandung Barat Masuki Tahap Pemulihan Pascabencana Longsor Cisarua, Relokasi Warga Masih Dikaji
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Muncul Tren Baru Suap Pakai Emas
• 11 jam laludetik.com
thumb
Soekarno Run 2026, PDI-P Gaungkan Semangat Kemandirian Pemuda
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Jajal Kekuatan China, Ini Fokus Timnas Indonesia U-17 di Laga Uji Coba Internasional
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.