Burung cendet menghadirkan sensasi kontras dalam dunia burung kicau Indonesia. Tubuhnya ramping, ukurannya sedang, tetapi karakternya keras dan penuh determinasi. Di alam, ia dikenal sebagai pemburu agresif. Ia juga sang maestro peniru suara yang cerdas dan memesona. Nama ilmiahnya Lanius spp., berasal dari bahasa Latin yang berarti tukang jagal.
Julukan itu bukan metafora berlebihan, melainkan ringkasan perilaku biologisnya. Cendet memangsa, membunuh, lalu menancapkan mangsa pada duri atau benda tajam. Pemandangan itu sering membuat orang terdiam, sekaligus kagum.
Di Indonesia, burung ini akrab disebut cendet, bentet, pentet, atau toet. Penyebutan itu berbeda menurut wilayah dan tradisi lokal. Di dunia internasional, ia dikenal sebagai shrike, kata dari bahasa Inggris Kuno yang berarti jeritan. Nama itu merujuk suara panggilannya yang nyaring.
Cendet bukan burung hutan lebat. Ia lebih menyukai ruang terbuka, tepian kebun, savana, dan padang rumput. Lanskap seperti itu memberinya sudut pandang luas untuk mengintai mangsa.
Wikipedia bahasa Indonesia mencatat famili Laniidae terdiri dari puluhan spesies. Persebaran cendet mencakup Eurasia, Afrika, Asia Tenggara, hingga Papua. Indonesia menjadi salah satu wilayah penting dengan populasi alami yang luas. Namun, popularitas di dunia kicau juga membawa tekanan serius bagi keberlanjutan populasinya.
Berdasarkan pengamatan penulis, burung ini berkembang biak di alam bebas dan cukup sulit ditangkarkan.
Jagal Kecil di Lanskap TerbukaSecara fisik, cendet memiliki panjang tubuh sekitar 20 hingga 25 sentimeter. Kepalanya relatif besar dengan leher yang tampak kokoh. Paruhnya pendek, tebal, dan berkait tajam di ujung. Bentuk ini mengingatkan pada burung pemangsa besar. Kakinya kuat, dengan cakar tajam untuk mencengkeram mangsa.
Ekornya panjang dan lentur, sering bergerak naik turun saat berkicau. Warna bulunya kontras, memadukan hitam, putih, abu-abu, atau cokelat kemerahan.
Salah satu spesies paling dikenal di Indonesia adalah Lanius schach, atau bentet kelabu. Burung ini tersebar dari Iran hingga Papua. Habitat favoritnya adalah padang rumput, tegalan, perkebunan, dan semak terbuka. Ia dapat ditemukan hingga ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut.
Posisi bertengger biasanya terbuka dan mencolok. Dari sana, ia mengawasi pergerakan serangga, burung-burung kecil, ular kecil, tikus kecil, atau vertebrata kecil lain.
Perilaku berburu cendet tergolong unik di antara burung passerine. Ia menangkap belalang, jangkrik, kumbang, bahkan kadal, ular, tikus, dan katak. Setelah mangsa lumpuh, cendet sering menancapkannya pada duri tanaman.
Yosef dan Pinshow dalam jurnal Behaviour berjudul “Impaling in Shrikes” tahun 2005 menjelaskan perilaku penancapan mangsa ini berfungsi sebagai penyimpanan makanan dan sinyal kualitas pejantan. Bangkai mangsa juga menandai wilayah kekuasaan.
Perilaku ini meningkat saat musim kawin. Pejantan yang memiliki “larder” atau gudang mangsa lebih lengkap cenderung lebih menarik bagi betina. Dengan kata lain, cendet mempraktikkan seleksi seksual berbasis kecakapan berburu. Ini menunjukkan kecerdasan ekologis yang tinggi. Burung kecil ini tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkomunikasi melalui tindakan simbolik di alam.
Dalam hal reproduksi, cendet tergolong produktif. Sarangnya berbentuk cawan kasar dari ranting, rumput, serat, dan bulu. Sarang biasanya ditempatkan di semak atau cabang pohon rendah. Betina bertelur antara dua hingga enam butir. Masa pengeraman berlangsung sekitar dua minggu.
Selama periode itu, jantan aktif menyuplai makanan. Anak mulai belajar terbang pada usia tiga hingga empat minggu. Dalam beberapa bulan, mereka sudah mandiri.
Otak Tajam dan Pandai MerekamSelain sebagai predator, cendet dikenal karena kecerdasannya. Salah satu indikator utama adalah kemampuan meniru suara. Dalam dunia kicau, kemampuan ini disebut masteran. Cendet mampu meniru suara burung lain dengan akurasi tinggi. Ia bahkan dapat merekam suara lingkungan di sekitarnya.
Penelitian klasik William H. Thorpe dalam buku Bird Song tahun 1961 menjelaskan hubungan mimikri vokal dan kapasitas kognitif burung. Burung dengan kemampuan belajar vokal tinggi umumnya memiliki memori auditori kuat.
Dalam praktik, cendet dapat menguasai lebih dari dua puluh variasi suara. Angka ini bergantung pada individu, lingkungan, dan metode pelatihan. Burung cendet mampu menirukan suara gereja, kenari, lovebird, kolibri, cililin, tonggeret, kutilang, pipit, kotek ayam betina, kokok ayam hutan, cicak, tokek, dan suara-suara lain sekitar rumah. Variasi ini membuatnya unggul di arena lomba.
Karakter cendet memang tidak sederhana. Ia dikenal agresif, terutama saat lapar atau birahi meningkat. Ia sangat teritorial dan responsif terhadap kehadiran burung lain. Namun, adaptasinya terhadap manusia tergolong tinggi. Jika dipelihara sejak piyik, sifat galaknya berkurang signifikan. Burung bahkan bisa mengenali tangan pemiliknya. Ia akan mendekat saat waktu makan tiba.
Umur cendet di alam liar berkisar lima hingga tujuh tahun. Dalam perawatan optimal, umurnya bisa lebih panjang. Umur siap produksi biasanya sekitar satu tahun. Cendet umumnya monogami, meski beberapa spesies menunjukkan poligami. Pola sosial ini memperlihatkan fleksibilitas perilaku yang adaptif terhadap lingkungan.
Antara Hobi, Ekologi, dan Tantangan KonservasiDi balik popularitasnya, cendet memiliki peran ekologis penting. Ia membantu mengendalikan populasi serangga hama. Keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem terbuka. Namun, tekanan terhadap populasi cendet semakin nyata. Perburuan, perdagangan, dan hilangnya habitat menjadi ancaman utama. Lanskap terbuka alami terus menyusut akibat alih fungsi lahan.
BirdLife International dalam laporan “Shrikes Conservation Overview” tahun 2022 menyoroti penurunan populasi beberapa spesies shrike. Di Indonesia, Lanius schach masih berstatus risiko rendah. Namun, penurunan lokal mulai terdeteksi. Popularitas di dunia lomba memperbesar permintaan pasar. Tanpa pengelolaan, tekanan ini dapat berujung krisis populasi.
Dunia kicau sebenarnya memiliki potensi menjadi bagian solusi. Edukasi penghobi tentang penangkaran berkelanjutan sangat penting. Regulasi perdagangan perlu ditegakkan secara konsisten. Mengapresiasi kecerdasan cendet tidak harus berarti mengambilnya dari alam. Menjaga habitat aslinya sama pentingnya dengan merawatnya di kandang.





