Anggota DPR RI Fraksi Gerindra dari Dapil Jawa Tengah VI, Azis Subekti, menegaskan bahwa keberhasilan Partai Gerindra dan Prabowo Subianto saat ini merupakan akumulasi dari kedisiplinan organisasi dan kesediaan untuk melewati proses panjang yang tidak instan. Azis menilai perjalanan Gerindra selama 18 tahun atau sejak berdiri pada 2008 hingga memenangkan Pemilu 2024 adalah sebuah penanda jalan bagi demokrasi Indonesia. Menurutnya, variabel terpenting dalam kesuksesan Gerindra adalah pengelolaan waktu dan kesabaran politik.
"Gerindra lahir bukan dari kelapangan kekuasaan, melainkan dari rasa belum selesai terhadap arah republik. Kami membangun struktur sebelum sorotan datang dan mempersiapkan kader sebelum kursi tersedia," ujar Azis melalui keterangannya, Jumat (6/2).
Azis menyoroti fase-fase sulit yang dialami partai, terutama saat menghadapi kekalahan dalam Pilpres 2009 dan 2014. Ia menjelaskan bahwa kekalahan tersebut justru menjadi momentum untuk menguji kesetiaan kader pada proses organisasi. Ia mengatakan sepuluh tahun berada di luar pemerintahan dianggap sebagai fase krusial yang membentuk karakter partai agar tetap berdiri tegak meski tanpa kekuasaan.
Baca juga : Netanyahu Pengaruhi Citra Demokrat di Pilpres? Biden: Saya tidak Tahu
"Kekalahan itu menguji sesuatu yang mendasar, yaitu kesetiaan pada proses. Gerindra memilih jalur oposisi dengan kesadaran bahwa itu adalah fungsi kontrol untuk menjaga kewarasan demokrasi, bukan untuk merawat dendam," tegasnya.
Terkait langkah berani Gerindra masuk ke dalam pemerintahan pada 2019, Azis menyebut hal itu sebagai langkah sadar untuk membaca ulang medan politik. Langkah ini mengubah cara publik memandang sosok Prabowo Subianto, dari figur perlawanan menjadi simbol stabilitas dan keberlanjutan. Namun, ia mengingatkan bahwa kemenangan besar pada 2024 bukanlah sebuah kejutan mendadak, melainkan hasil dari kerja sunyi kader di seluruh daerah.
"Banyak yang luput melihat pendidikan kader yang konsisten dan perawatan struktur yang tidak tergesa-gesa. Gerindra dibesarkan oleh rutinitas dan disiplin organisasi yang dijaga meski tidak disorot kamera," tambahnya.
Lebih lanjut, Azis menekankan bahwa usia 18 tahun dan kemenangan yang diraih saat ini bukanlah garis finis. Ia mewanti-wanti seluruh kader agar kemenangan tidak berubah menjadi kelalaian.
"Kekuasaan diraih justru setelah kesabaran diuji berkali-kali. Ingatan ini penting agar kita tidak tergoda jalan pintas. Pelajaran terbesarnya adalah dalam politik, yang paling bertahan bukan mereka yang paling keras bersuara, melainkan mereka yang paling tekun mengelola waktu," pungkas Azis. (E-3)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495617/original/043495600_1770380956-WhatsApp_Image_2026-02-06_at_9.05.43_AM.jpeg)

