EtIndonesia. Para ilmuwan tengah mengamati sebuah lubang hitam supermasif yang mengalami semacam “gangguan pencernaan”. Setelah menelan sebuah bintang, lubang hitam ini terus menyemburkan aliran materi, dan kekuatannya justru semakin bertambah.
Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 5 Februari di The Astrophysical Journal. Para ilmuwan menggunakan teleskop radio yang berlokasi di New Mexico dan Afrika Selatan untuk mengamati sebuah lubang hitam di pusat galaksi jauh di luar Bima Sakti. Lubang hitam tersebut mulai menyemburkan aliran materi berkecepatan tinggi setelah menelan sebuah bintang yang melintas terlalu dekat.
Para ilmuwan menilai fenomena ini tidak biasa karena tingkat “gangguan pencernaan” serta lamanya proses setelah lubang hitam menelan bintang tersebut tergolong sangat langka.
Semburan jet ini telah berlangsung selama enam tahun, lebih lama dibandingkan semua peristiwa serupa yang pernah diamati sebelumnya. Intensitasnya juga terus meningkat, menjadikannya salah satu sumber energi paling terang yang pernah ditemukan di alam semesta.
Penulis utama penelitian ini, astrofisikawan Universitas Oregon Yvette Cendes, mengatakan bahwa kecerlangan objek langit ini meningkat secara eksponensial, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Sekarang tingkat kecemerlangannya sekitar 50 kali lebih tinggi dibandingkan saat pertama kali ditemukan. Untuk objek dalam gelombang radio, kecerlangan seperti ini sungguh luar biasa,” ujarnya. “Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Ini sangat tidak biasa.”
Lubang hitam adalah objek dengan kerapatan sangat tinggi dan gravitasi yang begitu kuat hingga cahaya pun tidak dapat lolos. Lubang hitam ini berjarak sekitar 665 juta tahun cahaya dari Bumi, dengan massa sekitar 5 juta kali massa Matahari. Bintang yang ditelannya adalah jenis katai merah, dengan massa sekitar sepersepuluh massa Matahari.
Ketika sebuah bintang terlalu dekat dengan lubang hitam, ia akan tercabik oleh medan gravitasinya, namun tidak sepenuhnya melampaui cakrawala peristiwa (event horizon—batas di mana materi yang tertarik oleh gravitasi lubang hitam tidak dapat kembali). Peristiwa ini oleh para ilmuwan disebut sebagai peristiwa gangguan pasang surut (tidal disruption event).
Dalam kondisi tersebut, tarikan gravitasi di sekitar lubang hitam menyebabkan bintang tertekan secara horizontal dan tertarik secara vertikal, sehingga memanjang seperti mi. Karena itu, proses ini secara kiasan disebut “spaghettification” atau “menjadi seperti spageti”.
“Cahaya radio terang yang kami amati dengan teleskop berasal dari materi bintang yang mendekat, tetapi tidak pernah benar-benar melewati cakrawala peristiwa—seperti bayi pemilih makanan yang mengunyah lalu memuntahkan kembali makanannya, alih-alih menelannya,” kata Kate Alexander, seorang astrofisikawan Universitas Arizona sekaligus penulis pendamping studi tersebut.
Para peneliti masih belum mengetahui mengapa peristiwa gangguan pasang surut kali ini dan semburan jet yang dihasilkannya begitu spektakuler.
Pertanyaan yang tersisa sekarang adalah, berapa lama aliran gas kuat ini akan terus meningkat. Para peneliti memperkirakan bahwa fenomena ini mungkin mencapai puncaknya pada akhir tahun ini atau tahun depan, sebelum akhirnya perlahan-lahan meredup.
Laporan terjemahan oleh reporter Jin Jing / Editor Wen Hui




