Bukan AI: Cerita Keluarga Bali yang Fasih Bahasa Prancis hingga Tiga Generasi

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Video percakapan bocah laki-laki bernama I Gede Raka Gemilang (5 tahun) dengan kakeknya I Wayan Dana (69 tahun) menggunakan bahasa Prancis di area persawahan viral di media sosial.

Merci, mon Dieu, la vie est belle (Terima kasih, Tuhan, hidup ini indah),” kata Raka, seperti dilihat kumparan dari akun TikTok @AniquePurba, Sabtu (7/2).

On va regarder tout ce qui pousse dans la dang, dans les rizières (kita akan memandangi segala sesuatu yang tumbuh di sawah),” sambung Wayan Dana dalam video tersebut.

Warganet kagum melihat kemahiran kakek dan cucu itu berbahasa Prancis. Namun, sebagian warganet justru menduga video tersebut merupakan hasil produksi konten kecerdasan buatan (AI).

Ibu Raka, Ani Sanjaya Purba (36), tertawa tak menyangka video yang diunggah di akun Instagram miliknya disebut sebagai konten AI. Ani menanggapi hal itu dengan santai dan berharap video tersebut tersebar untuk hal-hal positif.

“Ada yang ambil video itu lalu diposting ulang dan disebut keluarga petani dari Bali, padahal bukan. Kami sekeluarga memang pemandu wisata. Ada pula yang komentar bilang konten AI. Ya, kami di rumah ketawa saja, namanya juga media sosial,” kata Ani saat ditemui di Pantai Sanur, Kota Denpasar, Sabtu (7/2).

Wayan Dana: 38 Tahun Jadi Pemandu Wisata

Kemahiran keluarga ini berbahasa Prancis berawal dari kegigihan I Wayan Dana semasa muda. Ia telah bekerja di dunia pariwisata sejak usia 17 tahun.

Awalnya, Wayan Dana bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran kawasan wisata Sanur sekitar tahun 1987. Saat itu, wisatawan yang paling banyak datang adalah mereka yang menggunakan bahasa Prancis, seperti turis dari Prancis, Belgia, Swiss, Kanada, dan negara lainnya.

Para pramusaji kesulitan berkomunikasi dengan turis Prancis karena mereka jarang menggunakan bahasa Inggris. Akibatnya, pramusaji kerap meminta bantuan pemandu wisata ketika turis Prancis hendak memesan hingga membayar makanan.

Wayan Dana pun terpaksa menghafal kata demi kata yang diucapkan turis Prancis, mulai dari nama menu hingga angka untuk pembayaran.

Di sisi lain, ia justru terpukau dengan turis Prancis. Menurutnya, logat mereka terdengar asyik, berpengetahuan luas, jujur, dan bijaksana.

“Asyik bergaul dengan orang Prancis. Pengetahuan umum dan budayanya bagus karena mereka sering bepergian. Pengucapan bahasanya juga enak didengar. Itu yang membuat saya belajar bahasa Prancis,” ujarnya.

Wayan Dana memutuskan belajar bahasa Prancis secara serius hampir satu tahun sambil tetap bekerja di restoran.

Menurutnya, bahasa Prancis relatif mudah dipelajari karena menggunakan abjad yang sama dengan bahasa Indonesia. Tantangannya terletak pada pengucapan yang membutuhkan latihan terus-menerus.

Ia juga merasa terbantu karena kecintaannya pada bahasa, termasuk belajar nama-nama fauna dan satwa dalam bahasa Latin, serta kebiasaannya berkomunikasi langsung dengan turis.

“Untungnya abjad Prancis dan Indonesia sama. Tapi untuk mengucapkan huruf ‘u’, orang Indonesia memang agak susah,” katanya.

Setelah mahir, Wayan Dana memutuskan menjadi pemandu wisata. Saat itu, jumlah pemandu wisata berbahasa Prancis resmi masih sangat terbatas.

Ia tak ingin kemahiran tersebut berhenti pada dirinya. Ketiga anaknya diwajibkan mengikuti les bahasa Prancis. Baginya, bahasa asing sama pentingnya dengan ilmu lain dan pasti berguna.

Wayan Dana pensiun sebagai pemandu wisata pada 2025 setelah 38 tahun bekerja. Kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan untuk menemani turis Prancis yang gemar berpetualang.

Namun, ia tetap aktif. Setelah pandemi berakhir, Wayan Dana mengikuti kursus pijat dan membuka jasa pijat bagi wisatawan mancanegara di Sanur.

“Kalau bahasa bisa Inggris. Dulu pernah belajar Jepang, tapi memang paling tertarik mendalami Prancis,” katanya.

I Made Darmika: Ketemu Jodoh Jago Bahasa Prancis

Kemahiran Wayan Dana berbahasa Prancis diwariskan kepada salah satu anaknya, I Made Darmika (40).

Made Darmika merupakan lulusan Bahasa Jepang. Setelah lulus, ia bekerja sebagai buruh di sebuah agen travel. Di sana, ia bertemu Ani, perempuan lulusan Bahasa Prancis asal Sumatera Utara. Keduanya satu kantor sekitar tahun 2012 dan kemudian menikah. Dari pernikahan itu, lahirlah Raka.

“Jodoh siapa yang tahu, kebetulan kami sama-sama bisa bahasa Prancis,” kata Ani sambil tersenyum.

Dalam keseharian, keluarga ini tak hanya menggunakan bahasa Prancis. Mereka membiasakan Raka mendengar bahasa Inggris, Indonesia, dan Bali agar memiliki wawasan yang luas.

Made Darmika dan Ani menikmati bekerja di sektor pariwisata dengan pasar wisatawan Prancis. Mereka bisa bekerja sambil berjalan-jalan dan bertemu banyak orang.

“Kami sering diberi atau dikirimi buku bahasa Prancis oleh turis yang kami tangani untuk Raka. Saat ini Raka baru bisa mengulang ucapan, belum bisa berkomunikasi lancar dalam bahasa Indonesia,” kata Made Darmika.

Kini, Made Darmika dan Ani memiliki usaha agen travel, membuka kelas online bahasa Prancis, serta mengelola mini bar di pinggir Pantai Sanur yang satu lokasi dengan usaha jasa pijat Wayan Dana.

Dalam hati, keluarga ini berharap suatu hari bisa menjadi turis di Prancis.

“Belum pernah ke Prancis. Kami biasanya yang dikunjungi. Siapa tahu suatu saat ada kesempatan ke sana, melihat langsung Prancis atau negara berbahasa Prancis lain seperti Belgia, Kanada, atau Swiss,” kata Made Darmika dan Ani.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ekspedisi Maluku Barat Daya Temukan Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
Titik Pemantauan Hilal Awal Ramadhan 2026 di Jakarta
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Pemerintah Beri Pendampingan Psikologis ke Keluarga Siswa SD Bunuh Diri di NTT
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Sepanjang 2025 Ekonomi Jakarta Alami Pertumbuhan 5,21 Persen, Kalahkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini Sabtu 7 Februari 2026: Waspada Hujan Lebat di Jawa-Nusa Tenggara
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.