Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi RI), Meutya Hafid, mengajak seluruh insan pers Indonesia untuk terus menjaga kualitas informasi publik di tengah percepatan digitalisasi dan banjir konten di dunia maya.
Ajakan itu disampaikan Meutya dalam Diskusi Film "3 Wajah Roehana Koeddoes" yang mengangkat sosok Pahlawan Nasional Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia, di Jakarta Selatan, Jumat, 6 Februari 2026.
Menurutnya, kecepatan penyampaian informasi perlu berjalan beriringan dengan ketelitian, empati, dan tanggung jawab sosial. Meutya menekankan kecepatan produksi berita yang tidak diimbangi ketelitian dan empati akan berisiko melahirkan konten emosional, menyesatkan, dan merusak ruang informasi, terutama bagi generasi muda.
“Karena digitalisasi mengutamakan kecepatan, kepekaan dalam tulisan terasa hilang. Padahal dulu kami sangat mengutamakan rasa dalam sebuah tulisan,” ujar Meutya dilansir dari laman resmi Komdigi, Sabtu, 7 Februari 2026.
Meutya juga menegaskan bahwa kebebasan pers sejak awal tidak pernah dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia maupun budaya bangsa.
Saat ini, Kondisi ruang digital Meutya menilai, menjadi tantangan semua pihak karena banyak diisi konten yang tidak mendidik dan berpotensi berdampak buruk bagi publik.
“Media sosial dan media baru ini kemudian diisi dengan karya-karya yang justru tidak mendidik, bahkan sebagian merusak generasi muda,” katanya.
Meutya menilai semangat Roehana Koeddoes sejak 1911 tetap relevan hingga sekarang sebagai pengingat bahwa pers lahir sebagai alat pendidikan dan pembebasan, bukan sekadar kecepatan dan sensasi.
“Saat ini dengan digitalisasi, semua orang dan semua perempuan bisa menulis dan membuat medianya masing-masing,” jelasnya.
Menjelang peringatan Hari Pers Nasional yang akan diperingati 9 Februari nanti, Meutya mengajak seluruh awak media untuk kembali menempatkan data, empati, dan tanggung jawab sosial sebagai fondasi jurnalistik agar ruang digital Indonesia tetap sehat, beradab, dan melindungi warga.
“Mari kita kembalikan karya-karya yang penuh rasa, penuh data, daripada emosi semata, dan meneruskan semangat yang telah dipelopori oleh Ibu Roehana Koeddoes,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461141/original/009933500_1767341030-Korban_keracunan_di_Warakas.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495716/original/014179100_1770399914-4.jpg)
