FAJAR, GIANYAR — Malam di Stadion Kapten I Wayan Dipta selalu menyimpan tekanan yang tak kasatmata. Udara lembap Gianyar, sorak yang menggema dari tribun, dan ingatan tentang laga-laga sebelumnya yang tak bersahabat menjadi latar bagi Persebaya Surabaya yang datang dengan satu misi: menang, atau tertinggal lebih jauh dari Persija Jakarta dan Persib Bandung dalam perburuan papan atas Super League 2025/2026.
Pekan ke-20 bukan sekadar penanda perjalanan musim. Bagi Green Force, ini adalah simpul yang menentukan arah. Kompetisi memasuki fase ketika jarak poin mulai terasa seperti jurang atau jembatan. Di satu sisi, Persija dan Persib terus menjaga ritme. Di sisi lain, Persebaya berusaha memastikan mereka tetap berada dalam orbit persaingan.
Kepercayaan diri sebenarnya sedang tumbuh di ruang ganti tim asal Surabaya itu. Dalam beberapa pekan terakhir, grafik permainan mereka menunjukkan stabilitas. Pemain-pemain baru mulai menyatu dengan kerangka taktik, sementara para pemain muda diberi ruang untuk mengambil peran. Di atas kertas, ini adalah Persebaya yang lebih matang dibandingkan putaran pertama.
Francisco Rivera menjadi salah satu simbol perubahan itu. Gelandang serang asal Meksiko berusia 31 tahun tersebut bukan sekadar kreator serangan, tetapi juga penghubung antara ambisi dan realitas di lapangan. Ia berbicara dengan nada optimistis menjelang laga, menegaskan bahwa timnya berada dalam kondisi baik dan siap bekerja keras menghadapi karakter permainan Bali United yang dikenal agresif dalam transisi.
Namun statistik menyimpan cerita yang tak selalu ramah. Sejak berkiprah di Indonesia, Rivera telah empat kali menghadapi Bali United dan hanya sekali merasakan kemenangan. Catatan itu termasuk dua pertemuan bersama Persebaya musim ini: kemenangan telak 5-2 di Surabaya pada 23 Agustus 2025—di mana ia mencetak satu gol dan dua assist—serta kekalahan 1-3 dalam laga lain meski ia turut menyumbang gol.
Rekor tandang Persebaya di Gianyar bahkan lebih keras. Tiga kekalahan dalam tiga kunjungan terakhir menjadi pengingat bahwa Dipta bukan tempat yang mudah ditaklukkan. Bali United, dengan identitas permainan cepat dan disiplin, kerap menjadikan kandang sebagai benteng psikologis.
Rivera memilih menanggalkan beban statistik itu. Ia menekankan kontribusi kolektif di atas pencapaian pribadi. Gol atau assist, baginya, hanyalah alat. Tiga poin adalah tujuan. Pernyataan itu terdengar klise dalam konferensi pers, tetapi di tengah kompetisi yang ketat, kesederhanaan target sering kali menjadi penawar kegugupan.
Di sisi teknis, pelatih Bernardo Tavares tak ingin kemenangan besar pada putaran pertama membius kewaspadaan timnya. Pelatih asal Portugal itu menggarisbawahi bahwa situasi kini berbeda. Komposisi pemain berubah, dinamika kompetisi bergerak, dan tekanan semakin nyata. “Cerita yang berbeda,” begitu ia menyebutnya, seolah ingin menghapus romantisme kemenangan lalu.
Persebaya memang tidak lagi diperkuat sejumlah pemain yang tampil pada pertemuan sebelumnya. Namun Tavares menolak menjadikan absennya beberapa nama sebagai alasan. Dalam logikanya, sepak bola selalu dimainkan sebelas lawan sebelas. Yang menentukan bukan nostalgia, melainkan siapa yang mampu membaca momen.
Ia juga membaca konteks yang lebih luas. Bali United datang setelah hasil kurang maksimal—kalah 2-3 dari Persik. Sementara Persebaya membawa catatan relatif stabil, meski hasil terakhir di kandang, saat unggul jumlah pemain melawan Dewa United, tidak sepenuhnya memuaskan. Dua tim dengan luka kecil, dua ambisi besar.
Pertanyaannya kemudian: siapa yang lebih siap mengelola tekanan?
Bali United dikenal piawai memanfaatkan transisi cepat. Satu kesalahan kecil dalam distribusi bola bisa berubah menjadi ancaman di depan gawang. Persebaya, dengan kreativitas Rivera dan energi pemain muda, dituntut menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Terlalu agresif, mereka bisa terpancing. Terlalu hati-hati, momentum bisa hilang.
Di sinilah laga ini menemukan maknanya yang lebih dalam. Bukan hanya tentang taktik atau komposisi pemain, melainkan tentang konsistensi—sesuatu yang kerap membedakan penantang gelar dari sekadar pesaing. Persebaya telah menunjukkan potensi, tetapi konsistensi di laga tandang masih menjadi pekerjaan rumah.
Jika malam di Gianyar berpihak, kemenangan bukan hanya memangkas jarak poin dengan Persija dan Persib. Ia juga akan mengirim pesan bahwa Persebaya siap menantang hingga akhir musim. Sebaliknya, kegagalan bisa mempertegas narasi lama: kuat di kandang, rapuh di luar rumah.
Maka Sabtu malam itu menjadi panggung pembuktian. Di tengah tekanan tribun Dipta dan sejarah yang belum sepenuhnya bersahabat, Persebaya membawa tekad untuk mengubah cerita. Rivera mungkin akan menjadi penulisnya lewat satu umpan terobosan atau sepakan terukur. Atau mungkin pemain lain yang tak terduga.
Sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang momentum yang diraih atau dilepaskan. Dan bagi Persebaya Surabaya, laga melawan Bali United bukan sekadar pertandingan pekan ke-20. Ia adalah ujian mental—apakah mereka benar-benar siap mengejar, atau hanya sekadar mengikuti bayang-bayang di puncak klasemen.





