JAKARTA, KOMPAS.TV - Psikolog keluarga Alissa Wahid dalam program ROSI menekankan pentingnya deteksi dini. Ia mempertanyakan, apakah kita benar-benar memperhatikan kondisi anak di sekitar kita—anak tetangga, anak di lingkungan keluarga, atau murid di sekolah.
Menurutnya, langkah paling mendasar adalah menyediakan ruang aman. Anak harus merasa diperbolehkan untuk menyampaikan apa pun yang ada di dalam hatinya, tanpa takut diremehkan.
Memberikan pemahaman bahwa mereka boleh mengeluh, boleh merasa terbebani, dan boleh bercerita, menjadi fondasi penting dalam pencegahan.
Alissa menyoroti peran sekolah dan tenaga pendidik. Ia mempertanyakan, apakah kepala sekolah dan guru sudah menciptakan suasana yang membuat anak nyaman untuk mendekat dan berbagi cerita.
“Ketika anak mengeluh, respons kita bagaimana? Apakah kita bilang, ‘alah, cuma begitu saja’?” ujarnya.
Respons yang meremehkan, menurutnya, bisa membuat anak memilih diam dan memendam beban sendiri.
Ketua KPAI periode 2022–2027, Margaret Aliyatul Maimunah menuturkan pernah ada best practice di sebuah wilayah di Provinsi DIY.
Warga sepakat membatasi penggunaan gadget bagi anak-anak dan menggantinya dengan ruang bermain non-digital seperti bersepeda dan permainan tradisional.
Kebijakan kolektif semacam itu dinilai sangat mungkin diterapkan di era sekarang, selama ada komitmen dari aparat dan masyarakat setempat.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U
**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.
#siswa #alissawahid #kpai
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- alissa wahid
- kpai
- siswa
- NTT
- tewas




