Dalam lanskap keamanan global mutakhir, kekuatan militer tidak lagi ditentukan hanya oleh kecanggihan teknologi mahal, melainkan oleh kemampuan memadukan kuantitas, presisi, dan biaya murah. Insiden ditembak jatuhnya drone Iran oleh jet tempur F-35C yang berbasis di kapal induk USS Abraham Lincoln menegaskan perubahan mendasar dalam karakter perang modern. Perang asimetris kini memaksa kekuatan adidaya bereaksi mahal terhadap ancaman murah.
Drone yang dikirimkan Iran itu jenis Shahed-139, bukan sekadar wahana udara nirawak biasa. Ia adalah simbol strategi Iran yang mengandalkan produksi massal, presisi memadai, dan harga rendah. Dalam teori perang, ini adalah contoh klasik asymmetric warfare, ketika pihak yang lebih lemah secara ekonomi menghindari adu kekuatan langsung dan memilih jalur penyeimbangan tidak konvensional.
Pendekatan Iran ini sangat kontras dengan doktrin militer Amerika Serikat yang berbasis technological overmatch. Sebuah drone murah yang bernilai puluhan ribu dolar dipaksa dihadapi dengan jet tempur siluman bernilai ratusan juta dolar. Di sinilah lahir paradoks strategis, kemenangan taktis bisa berarti kekalahan ekonomi jangka panjang.
Iran secara konsisten membangun reputasi sebagai negara dengan kemampuan cost-effective military innovation. Dalam perspektif teori realisme ofensif, Teheran sadar bahwa ia tidak perlu menandingi Amerika secara simetris. Cukup dengan menciptakan ancaman berkelanjutan yang memaksa lawan mengeluarkan biaya jauh lebih besar, keseimbangan daya dapat diputarbalikkan.
Kunci dari strategi ini adalah doktrin salvo attacks atau penggelontoran proyektil secara masif dan simultan. Doktrin ini telah lama menjadi trauma strategis bagi Israel, karena mampu menjenuhkan sistem pertahanan udara tercanggih sekalipun. Bukan satu rudal yang ditakuti, melainkan ratusan yang datang bersamaan.
Dalam teori pertahanan udara modern, setiap sistem memiliki saturation point. Ketika jumlah ancaman melampaui kapasitas intersepsi, pertahanan akan runtuh bukan karena lemahnya teknologi, tetapi karena kehabisan waktu, interceptor, dan anggaran. Iran memahami titik rapuh ini dengan sangat baik.
Pernyataan keras Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bahwa serangan Amerika akan memicu perang regional besar, bukan sekadar retorika politik. Itu adalah bagian dari deterrence signaling, memperlihatkan kesiapan militer pasca-konflik Juni 2025 yang telah membangkitkan kembali kepercayaan diri strategis Teheran.
Dengan klaim stok sekitar 2.000 rudal balistik baru dan ribuan drone operasional, Iran secara efektif membangun deterrence by denial. Lawan tidak diyakinkan bahwa Iran tak akan menyerang, tetapi diyakinkan bahwa biaya menyerang Iran akan terlalu mahal untuk ditanggung secara rasional.
Insiden drone yang mendekati kapal induk Amerika di perairan internasional, sekitar 800 kilometer dari pesisir selatan Iran, menunjukkan bagaimana grey-zone operations dimainkan. Tidak ada deklarasi perang, tidak ada serangan langsung, namun eskalasi tetap tercipta melalui ambiguitas niat dan jarak aman hukum internasional.
Dalam kerangka teori Clausewitzian, perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Drone Iran menjadi instrumen politik yang terbang, memaksa Washington bereaksi, menghitung ulang risiko, dan menimbang ulang kehadiran militernya di kawasan Teluk.
Situasi ini semakin kompleks dengan latihan militer bersama Iran, China, dan Russia di Selat Hormuz. Latihan tersebut bukan hanya demonstrasi kemampuan tempur, tetapi pesan geopolitik bahwa Iran tidak berdiri sendiri dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Dari perspektif balance of power, latihan ini menciptakan strategic encirclement pressure. Kehadiran kekuatan besar non-Barat di jalur energi vital dunia memaksa kapal induk Amerika untuk menjauh, bukan karena kalah tempur, tetapi karena risiko eskalasi multipolar yang tidak terkontrol.
Amerika Serikat dan Israel tentu tidak tinggal diam. Adaptasi teknologi seperti roket APKWS yang lebih murah dan sistem laser Iron Beam menunjukkan upaya mengatasi ketimpangan biaya. Namun, dalam perang asimetris, solusi teknis sering kali tertinggal dari kreativitas taktis pihak penantang.
Masalah utamanya bukan pada kualitas sistem pertahanan, melainkan pada rasio biaya. Menembakkan laser atau roket murah tetap membutuhkan infrastruktur mahal, energi besar, dan kesiapan logistik tingkat tinggi. Sementara itu, Iran dapat terus memproduksi drone dan rudal dengan siklus industri yang lebih sederhana.
Dalam teori war of attrition, pihak yang kalah bukan selalu yang kehilangan wilayah lebih dulu, tetapi yang kehabisan sumber daya ekonomi dan legitimasi politik. Di sinilah bahaya sesungguhnya bagi Amerika Serikat dan sekutunya, bahwa perang berkepanjangan yang menggerogoti anggaran tanpa kemenangan strategis yang jelas.
Iran tampaknya memahami bahwa ia tidak perlu menenggelamkan kapal induk Amerika. Cukup dengan memaksa kapal itu menjauh, mengubah pola patroli, dan meningkatkan biaya operasi, tujuan strategis sudah tercapai. Ini adalah kemenangan psikologis sekaligus operasional.
Bagi studi keamanan global, kasus ini menandai pergeseran penting, bahwa dominasi militer abad ke-21 tidak lagi absolut. Negara dengan sumber daya terbatas dapat memanfaatkan teknologi murah, doktrin kreatif, dan jaringan aliansi fleksibel untuk menantang hegemoni lama.
Pada akhirnya, drone murah Iran bukan sekadar alat perang, melainkan alat pembentuk ulang strategi global. Ia mengajarkan bahwa dalam dunia yang semakin multipolar, kekuatan tidak lagi diukur dari seberapa mahal senjata yang dimiliki, tetapi dari seberapa efektif ia memaksa lawan membayar harga yang tak sebanding.



