Ceramah ini membahas satu tema penting yang sering disalahpahami: kejujuran, dusta, dan batasannya dalam Islam.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang mukmin masih mungkin memiliki rasa takut dan sifat pelit, karena itu bagian dari fitrah manusia.
Namun ada satu sifat yang tidak pernah sejalan dengan iman, yaitu dusta.
Tanpa disadari, kebohongan sering dimulai dari hal kecil dan dianggap wajar, bahkan diajarkan sejak rumah.
Padahal Rasulullah SAW menegaskan bahwa dusta adalah induk dari berbagai kemaksiatan dan sumber kerusakan hidup.
Rumah tangga hancur bukan karena kurang cinta, melainkan karena cinta yang dicampur kebohongan.
Rezeki terasa sempit bukan karena kurang, tetapi karena kejujuran yang disembunyikan.
Islam juga mengajarkan bahwa dampak dusta bukan hanya di akhirat, tetapi terasa langsung di dunia.
Orang yang berdusta hidupnya gelisah, sulit tenang, sulit tidur, dan tidak nyaman secara batin.
Karena hati manusia hanya bisa menerima kebenaran. Kejujuran membawa ketenangan, sedangkan dusta melahirkan kegelisahan.
Namun Islam adalah agama yang adil dan penuh hikmah. Dalam ceramah ini juga dijelaskan bahwa tidak semua bentuk “tidak jujur” dihukumi sama.
Rasulullah SAW membolehkan dusta hasanah (ucapan yang tidak menyakiti dan tidak menzalimi) dalam tiga kondisi tertentu, salah satunya adalah untuk menyelamatkan nyawa.
Dicontohkan dalam kisah Rasulullah SAW ketika ada seseorang yang dikejar oleh orang berniat jahat.
Saat pelaku bertanya apakah Rasul melihat orang tersebut lewat, Rasulullah SAW tidak menjawab dengan kebohongan terang-terangan.
Beliau menggeser posisi berdirinya, lalu berkata, “Sejak aku berdiri di sini, aku tidak melihat siapa pun.”
Ini bukan dusta yang merusak iman, melainkan tanwîrah, yaitu ucapan yang benar namun tidak membuka jalan pada kezaliman.
Pesan pentingnya jelas:
Kejujuran adalah hukum asal.
Dusta hanya dibolehkan dalam kondisi darurat, untuk mencegah kezaliman, bukan untuk keuntungan pribadi.
Karena jika dusta dijadikan kebiasaan, ia akan menyeret seseorang kepada kemunafikan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka, dan tidak mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
Rasulullah SAW pun diperlihatkan azab pedih bagi para pendusta dalam peristiwa Isra Mi’raj.
Di akhir ceramah, kita diajak untuk berani jujur walaupun pahit. Karena kepahitan kejujuran hanya sesaat, sedangkan dampak dusta panjang dan menghancurkan.
Jujur itu menyelamatkan, jujur itu nikmat, dan jujur itu menenangkan.
Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita, menjauhkan kita dari kebohongan yang merusak iman, dan membimbing kita untuk selalu berkata benar dalam setiap keadaan.
Sahabat Kompas TV,
saksikan video lengkapnya hanya di channel youtube Kalam Hati,
setiap hari Minggu jam 13.00 WIB.
Jangan lupa Like, Comment, and share.
Serta follow akun Instagram kita di: @dikalamhati
Penulis : Mukhammad-Rengga-
Sumber : Kompas TV
- kalam hati
- kalam hati kompas tv
- kajian islami
- ceramah agama
- kultum




