FAJAR, MAKASSAR — Tenggat pendaftaran pemain selalu menghadirkan dua wajah: kepanikan dan kepastian. Pada Jumat, 6 Februari 2026, menjelang pukul 24.00 WIB, PSM Makassar memilih wajah kedua. Dalam hitungan jam terakhir, dua nama resmi tercatat di sistem I.League: Sheriddin Boboev dan Dusan Lagator. Administrasi rampung. Kuota penuh. Bursa ditutup.
Dengan masuknya dua pemain itu, jumlah legiun asing Pasukan Ramang genap sebelas. Sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan penanda arah musim. Terlebih lagi, kedatangan Lagator langsung mendongkrak nilai pasar skuad. Gelandang bertahan asal Montenegro itu kini menjadi pemain dengan nilai tertinggi di tubuh PSM—Rp 7,82 miliar—membuat total valuasi skuad mendekati Rp 98,21 miliar. Nyaris menyentuh angka simbolik: seratus miliar rupiah.
Namun sepak bola tak pernah selesai di angka.
Sheriddin Boboev tiba lebih dulu dalam narasi publik. Penyerang tim nasional Tajikistan itu terbang dari Dushanbe pukul 02.00 waktu setempat. Unggahan di Instagram dari dalam pesawat Somon Air menjadi penanda visual bahwa perjalanan menuju Makassar bukan lagi rumor. Tetapi kedatangan fisik hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya adalah administrasi: International Transfer Certificate, pengesahan federasi, dan sisa-sisa bayang sanksi FIFA yang sempat membelenggu klub.
Nama Boboev akhirnya resmi tercantum. Nomor 21 melekat di punggungnya. Ia sah, secara regulasi, memperkuat PSM.
Dusan Lagator sedikit lebih sunyi. Tak ada potret kedatangan, tak ada sambutan visual yang ramai. Bahkan hingga Jumat malam, keberadaannya di Indonesia masih menjadi tanda tanya. Namun sistem liga tak mengenal spekulasi. Ketika nomor 94 tercatat atas namanya, segala rumor berakhir. Ia resmi menjadi bagian dari Juku Eja.
Lagator datang bukan sekadar sebagai tambahan. Tomas Trucha membutuhkan keseimbangan—kata yang berulang kali ia ucapkan dalam beberapa pekan terakhir. PSM, yang musim ini terombang-ambing di papan tengah, kehilangan stabilitas di sektor krusial: lini belakang yang mudah goyah dan lini depan yang tumpul di 20 meter terakhir.
Sejak kepergian Lucas Dias, daya gedor PSM terasa timpang. Serangan kerap berhenti di umpan terakhir. Crossing tak menemukan sasaran. Penyelesaian akhir menjadi persoalan berulang. Dalam tujuh laga terakhir, Pasukan Ramang tak pernah meraih kemenangan. Dua imbang dan lima kekalahan menjadi catatan yang menekan posisi mereka di klasemen—peringkat 13, dengan jarak hanya tujuh poin dari zona degradasi.
Ambisi lima besar yang pernah digaungkan kini terdengar seperti gema jauh.
Trucha tak menutup mata. Ia secara terbuka menyebut kebutuhan akan pemain bertahan berkaki kanan yang fleksibel—bisa bermain di dua sisi dan juga di gelandang bertahan. Deskripsi itu nyaris identik dengan profil Lagator. Sementara Boboev disiapkan sebagai penyerang serbaguna: bisa menjadi ujung tombak, bergerak dari sayap, bahkan turun sebagai second striker.
Boboev bukan rekrutan spekulatif. Pada usia 26 tahun, ia telah mengoleksi 26 caps bersama tim nasional Tajikistan sejak 2017. Kariernya melintasi Tajikistan, Malaysia, Kazakhstan, hingga Iran. Musim terakhir bersama Ravshan Kulob, ia mencetak tujuh gol dari 19 laga. Dengan tinggi 182 sentimeter, ia bukan tipe target man statis. Ia bergerak, menekan, dan mencari ruang.
Masuknya dua pemain ini menjadi mungkin setelah PSM resmi bebas dari sanksi FIFA. Pada Senin (2/2/2026) pukul 23.55 Wita, nama PSM tak lagi tercantum dalam daftar klub yang dikenai larangan transfer. Sebelumnya, sanksi tiga periode efektif sejak 29 Januari sempat kembali membayangi, diduga terkait persoalan tunggakan gaji yang menyeret nama Abu Kamara.
Masalah administratif itu menambah beban pada krisis performa di lapangan. Cedera Savio dan Medina, kondisi Gledson yang belum sepenuhnya pulih, serta jadwal menghadapi tim-tim berat seperti Persib Bandung dan Borneo FC memperumit situasi. Hasil imbang tanpa gol melawan Semen Padang menjadi simbol stagnasi: dominan tanpa konversi.
Kini, dengan sebelas pemain asing resmi terdaftar—Savio Roberto, Alex Tanque, Jacques Medina, Gledson Paixao, Aloisio Soares, Victor Luiz, Yuran Fernandes, Daisuke Sakai, Luka Cumic, Dusan Lagator, dan Sheriddin Boboev—PSM memilih berhenti bernegosiasi dengan kemungkinan. Kuota penuh. Tidak ada ruang tambahan. Tidak ada spekulasi lanjutan. Nama Todor Todoroski, yang sempat disebut masuk radar, gugur begitu saja.
Bursa ditutup. Pertaruhan dimulai.
Nilai skuad boleh mendekati Rp 100 miliar. Tetapi angka itu tak otomatis menghapus tujuh laga tanpa kemenangan. Ia tak menjamin umpan terakhir menjadi lebih akurat, atau garis pertahanan lebih disiplin. Yang diuji kini adalah bagaimana sebelas pemain asing—bersama pemain lokal—menyatu dalam satu irama.
Di Makassar, sepak bola selalu lebih dari sekadar taktik. Ia menyentuh harga diri, siri’ na pacce. Nama Sheriddin yang terdengar akrab di telinga Bugis-Makassar mungkin kebetulan fonetik. Namun publik sering menemukan harapan dalam simbol-simbol kecil.
PSM tak sedang membangun kenyamanan. Mereka sedang menyusun ulang fondasi di tengah musim yang limbung. Lagator diharapkan menjadi jangkar. Boboev diharapkan menjadi jawaban atas kebuntuan.
Seratus miliar rupiah hampir terkumpul dalam nilai pasar.
Sebelas pemain asing telah lengkap.
Administrasi selesai.
Tetapi musim belum selesai.
Dan dalam situasi seperti ini, Sheriddin Boboev bukan sekadar rekrutan terakhir.
Ia adalah bagian dari upaya terakhir untuk memastikan PSM Makassar tidak tenggelam lebih dalam—melainkan bangkit, sebelum waktu benar-benar habis.
Daftar Lengkap 11 Pemain Asing PSM Makassar
Savio Roberto (Brasil)
Alex Tanque (Brasil)
Jacques Medina Temopele (Kongo)
Gledson Paixao (Brasil)
Aloisio Soares Neto (Brasil)
Victor Luiz (Brasil)
Yuran Fernandes (Tanjung Verde)
Daisuke Sakai (Jepang)
Luka Cumic (Serbia)
Dusan Lagator (Montenegro)
Sheriddin Boboev (Tajikistan)





