jpnn.com, JAKARTA - Dalam rangka memeriahkan peringatan 103 tahun kelahiran Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno, panitia nasional resmi meluncurkan ajang kompetisi desain busana bertajuk Fatmawati Trophy 2026.
Peluncuran ini dilakukan di Museum Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2), dengan mengusung tema ‘Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno dalam Balutan Wastra Nusantara’.
BACA JUGA: Fatmawati Trophy 2026 Hasil Konsep Prananda Prabowo, Hasto PDIP: Upaya Merawat Memori
Kompetisi ini bertujuan mengangkat kembali nilai sejarah dan keteladanan Fatmawati melalui kreativitas fesyen yang progresif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Sekretaris Panitia Nasional Fatmawati Trophy, Dana Anugerah Raffliansyah menegaskan ajang ini dirancang secara kompetitif dan bergengsi, ditandai dengan hadiah utama berupa piala bergilir yang memiliki nilai seni tinggi.
BACA JUGA: Gerbang Tol Fatmawati 2 Digratiskan hingga Akhir Oktober Urai Kemacetan
"Harapan kami dari panitia nasional, bapak dan ibu dari DPD di seluruh Indonesia bisa membuat kompetisi ini menjadi kompetitif dan bergengsi. Salah satunya karena piala bergilir yang akan diperebutkan didesain khusus dan benar-benar terkonsep oleh Bapak M. Prananda Prabowo," ujar Dana Anugerah saat memaparkan agenda teknis untuk DPD PDI Perjuangan seluruh Indonesia.
Dana menjelaskan secara rinci mengenai teknis pelaksanaan lomba. Kompetisi ini terbuka bagi desainer di daerah asal peserta sebagai wujud kearifan lokal yang diolah secara inovatif.
BACA JUGA: Jalan Fatmawati Raya Masih Ditutup Senin Pagi, Lalu Lintas Dialihkan
Peserta diwajibkan mengangkat wastra nusantara sebagai medium ideologis dan kultural untuk menafsirkan kembali nilai perjuangan Fatmawati: kesederhanaan, keanggunan, dan keberanian.
Mencari Karakter 'Leader', Bukan 'Follower
Sementara itu, pakar mode sekaligus perancang busana senior, Samuel Wattimena, memberikan perspektif mendalam mengenai filosofi lomba ini.
Menurutnya, kompetisi ini bukan sekadar meniru gaya busana masa lalu, melainkan menangkap semangat kemajuan (progresif) dari Ibu Fatmawati.
Samuel mengungkapkan bahwa fokus lomba ini, sebagaimana arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, adalah pada "progres" keberadaan Ibu Fatmawati saat berpenampilan.
"Penampilan Ibu Fatmawati adalah ekspresi seorang wanita yang berusaha menjadi leader (pemimpin), bukan follower (pengikut)," tegas Samuel saat memberikan paparan tentang kebaya dan kerudung Ibu Bangsa.
Gaya dandan Fatmawati dinilai sangat progresif pada zamannya. Semangat inilah yang ingin dijadikan inti dari lomba, di mana Fatmawati menjadi "lokomotif" untuk memperkenalkan ragam wastra Nusantara.
Pasangan dari kebaya tersebut diharapkan tidak hanya terpaku pada batik, tetapi bisa menggunakan sarung Makassar, tenun, lurik, sulam, hingga songket dari berbagai daerah.
Sebagai informasi, Fatmawati Trophy merupakan hasil kontemplasi M. Prananda Prabowo, Ketua DPP PDI Perjuangan, tentang pentingnya mengabadikan Fatmawati sebagai arsip nilai peradaban bangsa.
Gagasan tersebut diwujudkan secara artistik oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga, yang merancang trofi dalam bentuk figur perempuan berjubah berdiri tegak—melambangkan keteguhan, keheningan, dan kekuatan moral perempuan Indonesia.
Rangkaian acara peluncuran ini ditutup dengan tur Museum Fatmawati yang dipandu langsung oleh Puti Guntur Soekarno, serta ramah tamah dengan jamuan khas Bengkulu seperti gulai pakis, pendap, rendang lokan, hingga kudapan kue lepek binti.
Sajian ini menjadi simbol kehadiran memori domestik dan kultural dalam sejarah perjuangan nasional. (flo/jpnn)
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495034/original/091906700_1770352284-9df54548ba956d6722350f1f70e67d90.jpeg)
