Liputan6.com, Jakarta - Peringatan 103 tahun kelahiran Ibu Negara Fatmawati Soekarno digelar di Jakarta, Sabtu (7/2). Peringatan ini menjadi momen emosional bagi keluarga besar Bung Karno.
Hal itu terlihat dari acara yang digelar PDI Perjuangan (PDIP) dengan mengambil tajuk ‘Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno Dalam Balutan Wastra Nusantara’.
Advertisement
Melalui kata pengantarnya, cucu dari Fatmawati, Puti Guntur Soekarno membagikan sisi humanis sang nenek yang jarang diketahui publik.
Di hadapan keluarga besar dan kader PDIP, Puti mengaku merindukan sosok neneknya, yang akrab disapa "Embu".
Bagi sejarah Indonesia, Fatmawati adalah pahlawan yang menjahit Sang Saka Merah Putih. Namun bagi Puti, Fatmawati adalah nenek yang penuh kasih sayang, yang gemar memasak masakan khas Bengkulu untuk anak dan cucunya.
"Sebagai seorang nenek, hari ini saya, Mas Romy, Mas Dade, sampai hari ini masih bisa merasakan kehangatan cinta dari Ibu Fatmawati. Cinta yang sederhana dari seorang ibu, melalui masakannya," ujar Puti dengan nada haru.
Puti mengenang bagaimana Fatmawati kerap memasak rendang dan mengulek sambal sendiri, meski saat itu Bung Karno sudah tiada dan anak-anaknya telah dewasa.
"Walaupun ayah saya (Guntur) sudah menikah, walaupun Pakde Guruh sudah besar, ketika kami berkumpul, pasti dengan penuh cinta kasih Ibu Fatmawati menyuapkan makanan-makanan itu ke mulut putra-putrinya. Itu pun yang kami (cucu-cucu) rasakan," kenangnya.
Puti juga menceritakan, momen ketika Fatmawati menerima dua helai kain merah dan putih dari perwira Jepang pada Oktober 1944. Saat itu, Fatmawati sedang hamil tua mengandung Guntur Soekarnoputra.
"Bahan merah dan putih itu tidak ada yang tahu, bahkan Ibu Fatmawati sendiri tidak mengerti harus diapakan. Karena sedang mengandung, maka pikirannya mungkin dari perwira yang memberikan bahan itu ini adalah untuk dibuat popok bayi," cerita Puti.



