Bisnis.com, JAKARTA — PT Garam resmi memulai pembangunan atau groundbreaking tiga proyek hilirisasi strategis yang menjadi bagian dari agenda besar Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
Tiga proyek itu mencakup pembangunan Pabrik Garam Bahan Baku Industri berteknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Kabupaten Sampang dengan kapasitas 200.000 ton per tahun.
Proyek tersebut dijalankan melalui skema joint operation bersama PT Putra Arga Binangun dan PT SCC Chemical Engineering Indonesia.
Selain itu, PT Garam juga membangun Pabrik Garam Bahan Baku Industri MVR di Manyar, Gresik, berkapasitas 100.000 ton per tahun melalui kerja sama strategis dengan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).
Proyek ketiga adalah Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 di Kabupaten Gresik dengan kapasitas produksi 80.000 ton per tahun.
Direktur Utama PT Garam Abraham Mose menyatakan bahwa total kapasitas produksi dari ketiga proyek ini mencapai 380.000 ton per tahun. Investasi ini ditujukan untuk memperkuat pasokan garam industri nasional, meningkatkan kualitas produk, serta mendorong optimalisasi utilisasi produksi perusahaan.
Baca Juga
- Daftar lengkap 6 Proyek Hilirisasi Danantara yang Groundbreaking Hari Ini
- Danantara Resmi Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi Senilai Rp110 Triliun, Ini Daftarnya
- Pacu Hilirisasi Pangan, ID FOOD Garap Peternakan Unggas dan Industri Garam
“Groundbreaking tiga proyek hilirisasi fase I ini menegaskan arah baru PT Garam menuju industri garam modern. Melalui hilirisasi berbasis teknologi, kami berkomitmen mendukung ketahanan industri dan swasembada garam nasional,” ujar Abraham dalam keterangan resminya, Jumat (6/2/2026).
Abraham menambahkan perusahaan masih memiliki tujuh proyek strategis yang akan direalisasikan ke depan. Rangkaian proyek diharapkan memperkuat rantai nilai industri garam nasional dari hulu ke hilir serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja.
Secara nasional, proyek PT Garam merupakan bagian dari peresmian serentak enam proyek hilirisasi di 13 lokasi oleh Danantara Indonesia dengan total nilai investasi mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp110 triliun.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan proyek-proyek hilirisasi fase I menjadi bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional untuk memperkuat sektor riil dan meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja,” ujar Rosan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




