JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah rapatnya permukiman Kelurahan Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, akses ke toilet layak masih menjadi barang mahal bagi sebagian warga.
Bagi mereka yang tak memiliki septic tank, buang air besar (BAB) bukan sekadar urusan biologis, melainkan soal jarak, antrean, bahkan risiko keselamatan.
Pasalnya untuk bisa BAB, warga harus berjalan menyusuri gang sempit, hingga menyeberangi rel kereta api.
Bergantung pada WC Umum
Heni (48), sudah 30 tahun tinggal di Gang Sejahtera RW 08. Selama di sana, nyaris tak ada cahaya matahari yang menembus lorong selebar 1,5 meter itu.
Posisi rumahnya pun saling berdempetan. Namun, di tengah kondisi tersebut, Heni tinggal tanpa septic tank di rumahnya.
Ia menggantungkan kebutuhan buang air besar di WC umum tua.
“Belum pernah, belum punya septic tank, kalau buang air ya di WC umum,” ujar Heni saat ditemui Kompas.com, Sabtu (7/2/2026).
Baca juga: Sanitasi Warga Jelambar Memprihatinkan, 58 KK Masih Buang Air Sembarangan
Ia mengaku keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama untuk membuat septic tank di rumahnya.
“Ya karena biaya. Terkendala biaya. Kita sehari-hari aja masih mikir, jadi enggak sampai kalau mau bikin septic tank,” kata dia.
Mau BAB Harus Menyeberang Rel
Kondisi sanitasi di Jelambar bukan hanya soal WC umum.
Lurah Jelambar Pradista mencatat sedikitnya ada 58 kartu keluarga (KK) masih melakukan buang air besar sembarangan, baik secara terbuka maupun tertutup.
"Kalau terbuka itu jadi dia kayak di kali langsung gitu loh. Kalau yang tertutup itu mereka punya kloset, tapi enggak pakai septic tank. Jadi buangnya langsung ke kali atau saluran air. Sama saja sebenarnya, cuma kalau yang terbuka kan blak-blakan gitu," kata Pradista.
Salah satu contohnya yang ia ceritakan, yakni saat meninjau RW 04. Kondisinya sangat memilukan.
Baca juga: Menghilangnya Wajah Ridwan Kamil di Kolong Underpass Dewi Sartika Depok
Pasalnya, warga yang ingin buang air besar harus menyeberang rel kereta dulu, tepatnya ke tanah kosong yang ada comberannya.