Punai salung—yang memiliki nama ilmiah Treron oxyurus—adalah salah satu burung endemik Indonesia yang sangat jarang diperhatikan. Ia hidup tenang di kanopi hutan pegunungan Sumatra dan Jawa bagian barat. Sekilas, burung ini tampak sederhana dengan balutan warna hijau. Namun, di balik kesederhanaan itu, Punai salung menyimpan cerita ekologis yang kaya dan kompleks.
Burung ini termasuk keluarga Columbidae, satu rumpun dengan merpati dan punai lainnya. Ia pertama kali dideskripsikan oleh ahli zoologi Belanda, Coenraad Jacob Temminck, pada tahun 1823. Temminck mencatat Punai salung sebagai spesies khas hutan pegunungan tropis dengan karakter fisik yang unik. Sejak saat itu, Punai salung menjadi bagian penting dari kajian keanekaragaman hayati Nusantara.
Punai salung dikenal dengan beberapa nama lokal, seperti punai ekor panjang atau punai gunung. Sebutan tersebut merujuk pada bentuk ekornya yang memanjang dan runcing. Panjang tubuhnya sekitar 34 sentimeter, menjadikannya burung berukuran sedang. Posturnya ramping, memberi kesan lincah saat berpindah dari satu tajuk ke tajuk lain.
Ciri fisik Punai salung cukup khas bila diamati dengan saksama. Kakinya pendek berwarna merah muda kemerahan, kuat untuk bertengger lama di dahan tinggi. Paruhnya tebal dan pendek, berwarna hijau kebiruan, sangat sesuai untuk memakan buah. Leher dan badan menyatu dalam gradasi hijau gelap yang lembut di mata.
Burung jantan dewasa tampil lebih mencolok dibanding betina. Bagian atas tubuhnya hijau tua dengan kilau zaitun, sementara bagian perut bawah berwarna kuning cerah. Di dada terdapat semburat oranye pudar yang sering luput dari pengamatan sekilas. Wajahnya memiliki kulit orbital hijau kebiruan yang tampak seperti kacamata alami.
Betina Punai salung memiliki warna tubuh yang lebih kusam. Ia tidak menampilkan semburat oranye di dada seperti jantan. Warna hijau tubuhnya cenderung seragam dengan garis gelap halus di bagian bawah. Perbedaan ini berperan penting dalam kamuflase, terutama saat betina mengerami telur di sarang terbuka.
Keunikan Punai salung terletak pada warna bulunya yang sering menipu mata. Sekilas hijau polos, tetapi berubah mengikuti arah cahaya. Dalam kondisi cahaya tertentu, bulunya memantulkan warna kuning, zaitun, hingga keemasan lembut. Fenomena ini dijelaskan David Lee dalam buku Avian Coloration tahun 2010 sebagai efek struktural bulu.
Efek struktural tersebut bukan sekadar estetika. Pantulan cahaya membantu Punai salung menyatu dengan dedaunan di sekitarnya. Kamuflase ini membuatnya sulit dikenali predator dari kejauhan. Dengan demikian, warna bulu yang menipu mata berfungsi sebagai strategi bertahan hidup yang sangat efektif.
Punai salung merupakan burung endemik Indonesia asli. Ia hanya ditemukan di Pulau Sumatra dan Jawa bagian barat. Di Sumatra, penyebarannya mencakup Pegunungan Barisan. Di Jawa, ia tercatat menghuni kawasan pegunungan barat hingga sekitar Gunung Papandayan.
Habitat utama Punai salung adalah hutan perbukitan dan hutan pegunungan yang masih rapat. Ia tercatat hidup pada ketinggian 350 hingga 1.800 meter di Sumatra. Di Jawa, ketinggiannya bahkan mencapai 3.000 meter di atas permukaan laut. Ketergantungan pada kanopi rapat membuatnya sangat sensitif terhadap kerusakan hutan.
Secara ekologi, Punai salung adalah pemakan buah sejati. Buah ara atau ficus menjadi salah satu sumber pakan utama. Ia mencari makan secara berkelompok, sering kali dalam kawanan besar. Pagi hari digunakan untuk mencari makan, sementara sore hari untuk kembali bertengger bersama.
Perilaku bertengger komunal ini menarik perhatian para peneliti. Walter—dalam The Ecology of Columbidae tahun 1981—menyebut pola ini sebagai strategi efisiensi energi dan perlindungan sosial. Dengan bertengger bersama, risiko predasi dapat ditekan. Selain itu, interaksi sosial antarindividu tetap terjaga.
Dalam ekosistem hutan, Punai salung memiliki fungsi penting sebagai penyebar biji. Buah yang ditelan akan dikeluarkan bersama kotoran di lokasi berbeda. Proses ini membantu regenerasi alami hutan. Tanpa burung pemakan buah seperti Punai salung, siklus hutan akan terganggu.
Kemampuan terbang Punai salung tergolong stabil dan tenang. Sayapnya lebar dengan kepakan ritmis, cocok untuk manuver di antara pepohonan. Ia jarang terbang jauh, lebih sering berpindah antarpohon berbuah. Saat terkejut, ia mampu melesat cepat dan menghilang di balik tajuk.
Punai salung dikenal sebagai burung setia karena sistem perkawinannya monogami. Setelah menemukan pasangan, mereka akan bersama dalam jangka panjang. Kedua induk terlibat aktif dalam membangun sarang dan mengerami telur. Pola ini menunjukkan tingkat kerja sama yang tinggi.
Musim berkembang biak Punai salung berbeda antarwilayah. Di Sumatra, aktivitas ini tercatat pada Januari dan September. Di Jawa, musim kawin umumnya berlangsung pada bulan Juni. Perbedaan ini berkaitan dengan ketersediaan pakan di masing-masing wilayah.
Sarang Punai salung dibangun sederhana dari ranting. Letaknya di cabang pohon pada ketinggian beberapa meter dari tanah. Telur yang dihasilkan biasanya satu hingga dua butir berwarna putih. Masa pengeraman berlangsung sekitar 15 hingga 20 hari.
Anak Punai salung tidak langsung mandiri setelah menetas. Mereka masih diasuh dan dilatih terbang oleh induknya. Diperkirakan, anak mulai mandiri setelah beberapa bulan. Umur siap produksi berkisar satu hingga dua tahun, tergantung kondisi lingkungan.
Saat ini, status konservasi Punai salung tergolong hampir terancam. IUCN Red List mencatat populasinya terus menurun. Penyebab utama adalah degradasi habitat dan perdagangan satwa liar. Hutan pegunungan yang menjadi rumahnya terus terfragmentasi.
Dulu, Punai salung dianggap cukup umum di wilayah sebarannya. Kini, ia semakin jarang dijumpai, terutama di Jawa. Laporan harian Kompas berjudul “Burung Punai Kian Terdesak” pada 12 Mei 2021 menyoroti kondisi ini. Perubahan lanskap menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidupnya.




