Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai bahwa akses pangan yang terjangkau memainkan peran strategis dalam menjaga daya beli masyarakat, menekan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Program Bantuan Pangan Jadi Instrumen Jaga Daya BeliKepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pihaknya terus menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan nasional agar masyarakat tetap memperoleh akses pangan yang terjangkau.
"Ingat kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Sesuai perintah Bapak Presiden, untuk stabilkan harga. Kita jaga harga pangan sampai Ramadhan selesai. Fokus kita sekarang memastikan stabilisasi harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga," ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa Bapanas mendapat mandat untuk menjaga hilir rantai pasok pangan dan turut mendukung pelaksanaan program stimulus ekonomi guna menjaga konsumsi rumah tangga.
Pada kuartal ketiga tahun 2025, Bapanas menugaskan Perum Bulog menyalurkan bantuan pangan berupa beras 20 kilogram per keluarga penerima manfaat (KPM) untuk alokasi dua bulan sejak Juli 2025.
Realisasi program tersebut hingga November 2025 telah menjangkau lebih dari 18 juta KPM dengan total anggaran mencapai Rp4,97 triliun.
Pemerintah kemudian melanjutkan program bantuan pangan pada kuartal keempat tahun 2025 dengan skema bantuan yang diperluas mencakup beras 20 kilogram dan MinyaKita empat liter per KPM untuk dua bulan.
Hingga akhir Desember 2025, bantuan tersebut telah diterima lebih dari 17 juta keluarga dengan total anggaran sekitar Rp6,5 triliun.
Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa program bantuan pangan sangat membantu masyarakat dalam menekan pengeluaran konsumsi harian.
"Jika daya beli masyarakat terjaga, roda ekonomi akan terus berjalan," ia menegaskan.
Stimulus Dorong Konsumsi, Konsumsi Topang PertumbuhanPemerintah memastikan bahwa program bantuan pangan akan berlanjut pada kuartal pertama tahun 2026 dengan jumlah keluarga penerima manfaat ditingkatkan menjadi 33,2 juta, naik signifikan dari sebelumnya sekitar 18 juta.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi ditopang oleh aktivitas domestik yang terjaga.
Pada triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen year on year, tertinggi sejak pandemi COVID-19.
Pertumbuhan ekonomi tahunan tahun 2025 tercatat sebesar 5,11 persen, juga merupakan capaian tertinggi sejak 2023.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga berkontribusi 2,62 persen terhadap pertumbuhan dan menjadi penyumbang utama PDB nasional dengan porsi sebesar 53,8 persen.
Sepanjang 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen dan melonjak menjadi 5,11 persen pada triwulan IV.
Kebijakan stimulus ekonomi yang konsisten setiap kuartal dianggap sebagai salah satu faktor kunci dalam menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan pertumbuhan dari sisi pengeluaran.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2020%2F10%2F19%2F3459ab66-fe34-4af6-b506-d79a7e0d3a91.jpg)



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F01%2F21%2F93dec086-d714-4ec8-a5b9-4f1e913b9bd5.jpg)