Proses dan Cara Manusia Menguasai Bahasa Kedua

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Ketertarikan manusia terhadap fenomena pembelajaran bahasa telah berlangsung sejak zaman kuno. Namun, upaya ilmiah untuk memahami bagaimana sebuah bahasa baru ditanamkan ke dalam pikiran manusia baru benar-benar terkristalisasi menjadi disiplin ilmu mandiri yang disebut Second Language Acquisition (SLA) pada tahun 1960-an.

Disiplin ini muncul karena para peneliti merasa perlu untuk menggali lebih dalam mengenai sifat alami dan proses kognitif yang mendasari pembelajaran, alih-alih terus berkutat pada metode pedagogis atau cara pengajaran semata.

Yang menjadi permasalahan mendasar dalam ruang lingkup penelitian ini adalah variabel pembeda terhadap kurun waktu dan usaha yang ditempuh oleh manusia dalam mengakuisisi bahasa kedua setelah bahasa ibu. Ada orang yang menguasai bahasa kedua secara cepat dan ada pula yang menguasainya sangat lambat, meskipun keduanya berusaha keras.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam teori, kita perlu memahami bahwa istilah pemerolehan bahasa kedua mencakup pembelajaran bahasa apa pun setelah bahasa pertama dikuasai, baik yang terjadi secara alami di lingkungan sosial maupun yang berlangsung di dalam ruang kelas formal.

Perbedaan konteks ini sangat krusial karena status bahasa tersebut—apakah sebagai bahasa kedua yang memiliki fungsi sosial dominan di masyarakat atau sebagai bahasa asing yang hanya dipelajari di sekolah—akan menentukan paparan dan kualitas input yang diterima siswa.

Selain itu, terdapat dikotomi penting antara akuisisi yang merujuk pada proses bawah sadar di lingkungan naturalistik dan pembelajaran yang mengacu pada proses sadar di sekolah, meskipun batas antara keduanya sering kali menjadi kabur dalam praktik penelitian terkini. Pemahaman akan skema ini menjadi landasan logis untuk menelaah bagaimana berbagai teori mencoba menjelaskan fenomena mental yang tidak kasat mata ini.

Pada masa awal perkembangannya, teori pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh aliran psikologi behaviorisme. Behaviorisme memandang pembelajaran sebagai proses pembentukan kebiasaan baru melalui peniruan berulang dan praktik intensif.

Menurut penelitian, dikatakan bahwa pemerolehan struktur bahasa kedua dipengaruhi oleh struktur bahasa ibu, dan oleh karenanya, apabila struktur bahasa kedua sangat berbeda drastis secara teknis dan teorinya, siswa juga akan kesusahan serta proses transmisi justru dapat berujung pada kesalahan berbahasa.

Meskipun teori ini sempat mendominasi, para peneliti kemudian menemukan berbagai bukti empiris yang menunjukkan bahwa pendekatan behaviorisme memiliki keterbatasan dalam menjelaskan kompleksitas proses belajar manusia. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa siswa sering kali melakukan kesalahan unik yang sama sekali tidak berkaitan dengan pengaruh struktur bahasa ibu mereka.

Keterbatasan pandangan behavioris tersebut mendorong pergeseran paradigma menuju pendekatan kognitif yang memandang pembelajar sebagai agen aktif yang terus-menerus membentuk hipotesis berdasarkan kemampuan mental mereka sendiri.

Dalam kerangka berpikir ini, kesalahan berbahasa bukan lagi dianggap sebagai dosa kegagalan, melainkan bukti berharga dari keberadaan interlanguage atau sistem bahasa antara yang sedang dikonstruksi oleh pembelajar dalam perjalanannya menuju penguasaan bahasa target.

Teori universal grammar dari Chomsky memperkuat perspektif ini, dengan asumsi bahwa manusia memiliki prinsip-prinsip bahasa bawaan yang membatasi dan memandu proses akuisisi. Sementara itu, pendekatan lain yaitu model monitor yang diajukan oleh Krashen membedakan sistem yang diakuisisi secara bawah sadar dengan sistem yang dipelajari secara sadar.

Ia juga menekankan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai jika siswa menerima input yang dapat dipahami atau comprehensible input yang levelnya sedikit di atas kemampuan mereka saat ini.

Meskipun kelihatannya faktor kognitif yang memegang peranan sentral, bahasa pada hakikatnya adalah fenomena sosial, sehingga pendekatan interaksional dan sosiokultural juga sangat resiprokal.

Pendekatan analisis percakapan menyoroti bahwa interaksi sosial dan negosiasi makna antara siswa dengan lawan bicaranya merupakan sumber utama dalam mencerna struktur sintaksis dan kosakata.

Lebih jauh lagi, model akulturasi dari Schumann mengajukan proposisi bahwa keberhasilan dalam menguasai bahasa baru juga sangat ditentukan oleh seberapa besar keinginan kita untuk membaur dengan masyarakat penutur aslinya.

Jika seseorang merasa asing atau menarik diri dari lingkungan sosial budaya bahasa target, kemampuan bahasanya cenderung akan jalan di tempat atau mengalami stagnasi. Dengan demikian, motivasi untuk menyatu dengan budaya baru menjadi variabel penentu yang sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.

Namun, kehadiran teknologi modern telah merombak batasan tradisional ini dengan menyediakan akses tanpa batas terhadap materi otentik melalui internet dan perangkat seluler, yang memungkinkan pembelajar di lingkungan asing untuk menciptakan lingkungan belajar yang imersif secara mandiri.

Teknologi telah mengubah cara pembelajar mengelola strategi mereka dan memberikan otonomi yang lebih besar dalam menentukan laju pembelajaran mereka sendiri.

Variasi tingkat keberhasilan antarindividu dalam mempelajari bahasa kedua merupakan misteri yang dijelaskan melalui interaksi kompleks berbagai faktor internal, seperti usia, bakat, motivasi, dan kondisi afektif.

Hipotesis periode kritis menyatakan bahwa kurun waktu biologis terjadi sebelum masa pubertas, yang memungkinkan seseorang mencapai keahlian setara penutur asli, terutama dalam aspek pelafalan.

Pencapaian bahasa pada anak-anak cenderung lebih unggul dalam skala jangka panjang karena kemampuan otak mereka yang masih sangat adaptif dalam menyerap struktur linguistik secara alami.

Meskipun demikian, orang dewasa menunjukkan performa yang jauh lebih cepat pada fase awal pembelajaran. Hal itu berkat kematangan kognitif yang memungkinkan mereka memahami pola logika serta tata bahasa dengan lebih efektif.

Kendati memiliki keunggulan intelektual, orang dewasa kerap menghadapi hambatan biologis yang membuat mereka sulit untuk mencapai aksen atau pelafalan yang benar-benar sempurna layaknya penutur asli.

Di sisi lain, keberhasilan proses belajar ini sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional yang bisa menjadi penghalang sekaligus menjadi pendukung utama.

Perasaan cemas atau kurang percaya diri berpotensi menjadi penghambat yang menutup jalan bagi informasi baru untuk masuk ke dalam memori, sementara motivasi yang besar menjadi tenaga penggerak yang krusial—misal kebutuhan untuk syarat kerja, ingin keluar negeri, dsb. Motif perilaku ini yang bisa memengaruhi tingkat kesulitan dalam menguasai bahasa kedua.

Perkembangan disiplin Second Language Acquisition (SLA) pada abad kedua puluh satu kini telah bergeser ke arah yang jauh lebih inklusif dengan merangkul berbagai teori serta kemajuan teknologi mutakhir. Fokus penelitian belakangan ini sudah meluas hingga menyentuh dampak dari bagaimana platform-platform media sosial dan bantuan AI dapat sangat membantu.

Selain itu, pengaruh tren budaya dan pembentukan identitas juga berperan penting terhadap bagaimana lingkungan di mana siswa tumbuh memuat paparan yang intens dalam relasi atau kelompok sosial.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Di Hadapan MUI, Prabowo Ajak Bangsa Bersatu Lawan Korupsi
• 23 jam lalumerahputih.com
thumb
PBB Terancam Bangkrut, Ini Sebabnya!
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Taklukkan Tottenham, Carrick: Konsistensi MU Lebih Penting daripada Rayakan Euforia 4 Kemenangan
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Respons Jimly Soal Adies Kadir jadi Hakim MK: Tidak Langgar Aturan, Tapi Etika
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
PPP Dukung Langkah Prabowo Bela Palestina Lewat BoP, Disebut Berjuang dari Dalam
• 20 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.