Pantau - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, menyatakan komitmen TNI AD dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pengembangan program agroforestri yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Agroforestri Jadi Kontribusi Nyata TNI AD untuk Pangan NasionalPernyataan tersebut disampaikan Maruli Simanjuntak dalam gelar wicara Panen Fest 2026 di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Ia menyebut bahwa meskipun bukan merupakan tugas pokok TNI AD, pengembangan agroforestri terbukti memberikan dampak positif di lapangan.
“Melihat perkembangan yang baik, TNI AD akan terus mengembangkan program agroforestri sebagai kontribusi terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan nasional,” ungkapnya.
Maruli menegaskan bahwa TNI AD siap berperan aktif dalam menjaga ketahanan pangan, meski tidak merinci bentuk teknis program maupun wilayah baru pengembangannya secara spesifik dalam kesempatan tersebut.
KSAD Terima Penghargaan Atas Peran TNI AD dalam Ketahanan PanganDalam rangkaian kegiatan Panen Fest 2026, Maruli Simanjuntak menerima penghargaan atas peran TNI AD dalam bidang pangan.
Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi institusi TNI AD dalam program agroforestri, penyediaan air bersih, dan penguatan teritori pangan nasional.
"Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tetapi untuk seluruh institusi TNI Angkatan Darat," tegasnya.
Penghargaan serupa juga diberikan kepada Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, dan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), atas peran masing-masing dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Perluasan Agroforestri dan Dampaknya di Jawa BaratBerdasarkan pemberitaan sebelumnya pada 6 Juli 2025, TNI AD diketahui memperluas pelaksanaan agroforestri di Jawa Barat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Program ini bertujuan tidak hanya menciptakan ketahanan pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru.
Kolaborasi dilakukan bersama BUMN seperti PTPN dan PT Pupuk Indonesia, serta didukung pembangunan infrastruktur seperti jalan dan akses air bersih.
Program telah melibatkan sekitar 5.000 keluarga, dengan target pengelolaan lahan sebesar 1 hektare per keluarga dan pendapatan di atas UMR.
Lima wilayah di Jawa Barat yang terlibat dalam program ini adalah Purwakarta, Cianjur, Pangalengan, Pangandaran, dan Garut dengan target luas lahan sebesar 200 hektare per lokasi.
Maruli Simanjuntak menilai bahwa program ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan di masa mendatang.


