KETEGANGAN Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat meski kedua negara menyepakati kelanjutan perundingan nuklir. Teheran menegaskan garis merahnya dan memperingatkan akan menyerang pangkalan militer AS jika terjadi agresi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan harapannya agar pembicaraan dengan Amerika Serikat dapat segera dilanjutkan, seraya memperingatkan konsekuensi jika Washington melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Dalam pernyataan yang dikutip dari saluran Telegram resminya pada Sabtu (7/2), Araghchi mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa program rudal Iran tidak pernah menjadi bahan negosiasi dalam perundingan tidak langsung yang digelar di Oman sehari sebelumnya. Ia menegaskan isu tersebut berada di luar cakupan pembahasan nuklir.
Baca juga : Korban Tewas Krisis Iran Lampaui 5.100 Jiwa, Armada Tempur AS Siaga
Pernyataan itu disampaikan di tengah rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengangkat isu program rudal balistik Iran dalam pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Washington pekan depan.
Pada saat yang sama, Araghchi kembali mengingatkan bahwa Iran akan membalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan jika wilayahnya diserang.
Situasi ini berkembang ketika utusan utama AS untuk Iran, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln yang tengah beroperasi di Laut Arab, sebuah langkah yang dipandang sebagai sinyal berlanjutnya tekanan militer Amerika.
Baca juga : AS Tambah Jet Tempur di Timur Tengah, Ada Apa?
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi kunjungan tersebut melalui unggahan di media sosial. Dalam unggahan terpisah, Witkoff menyebut kapal induk dan kelompok serangnya sebagai kekuatan yang menjaga mereka tetap aman dan menjunjung tinggi pesan Presiden Trump tentang perdamaian melalui kekuatan.
Araghchi menyampaikan bahwa meski pembicaraan di Muscat berlangsung secara tidak langsung, tetap terbuka ruang untuk interaksi lebih dekat dengan delegasi Amerika.
Ia menyebut proses tersebut sebagai awal yang baik, namun mengingatkan bahwa masih dibutuhkan waktu dan langkah panjang untuk membangun kepercayaan. Menurutnya, pembicaraan lanjutan akan digelar dalam waktu dekat.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menilai pertemuan itu sebagai sangat baik dan mengindikasikan adanya putaran negosiasi baru pada pekan berikutnya.
Namun, pada hari yang sama, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mulai berlaku hari Sabtu, yakni menyerukan pemberlakuan tarif terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Amerika Serikat turut mengumumkan sanksi tambahan terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman yang dinilai terlibat dalam ekspor minyak Iran.
Data Organisasi Perdagangan Dunia menunjukkan bahwa lebih dari seperempat perdagangan Iran melibatkan Tiongkok, dengan nilai impor mencapai US$18 miliar dan ekspor sekitar US$14,5 miliar sepanjang 2024.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi menegaskan bahwa pengayaan nuklir merupakan hak yang tak dapat dicabut bagi Iran dan harus tetap dijalankan.
"Kami siap mencapai kesepakatan yang meyakinkan tentang pengayaan," ujarnya.
"Kasus nuklir Iran hanya akan diselesaikan melalui negosiasi," tambahnya.
Ia kembali menegaskan bahwa program rudal Iran tidak pernah dapat dinegosiasikan karena berkaitan langsung dengan masalah pertahanan.
Washington selama ini mendorong agar pembicaraan mencakup isu rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan, tuntutan yang juga disuarakan Israel. Namun Iran secara konsisten menolak perluasan agenda di luar isu nuklir.
Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi bahwa Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada Rabu mendatang untuk membahas isu Iran. Netanyahu disebut meyakini bahwa setiap perundingan harus mencakup pembatasan rudal balistik serta penghentian dukungan terhadap apa yang disebutnya sebagai poros Iran di kawasan.
Pada Sabtu (7/2), Araghchi juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai doktrin dominasi Israel, yang menurutnya memungkinkan Tel Aviv memperluas persenjataan militer sambil menekan negara-negara lain di kawasan agar melucuti senjata.
Perundingan di Oman merupakan yang pertama sejak pembicaraan nuklir Iran-AS terhenti tahun lalu, menyusul serangan udara besar-besaran Israel terhadap Iran yang memicu perang selama 12 hari. Dalam konflik tersebut, pesawat tempur AS turut membom sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Araghchi menegaskan kembali ancamannya dengan mengatakan bahwa jika Iran kembali diserang, mereka akan menyerang pangkalan AS di kawasan tersebut. (H-4)



