Pantau - Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan pentingnya peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknologi sebagai bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan 12 juta talenta digital Indonesia pada 2030.
Tantangan Akses Setara dan Fenomena Leaky PipelineDalam keterangannya, Meutya Hafid menyatakan bahwa tantangan utama bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal akses yang setara bagi anak perempuan untuk terlibat dan berkembang di sektor teknologi.
"Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi soal akses yang setara bagi anak perempuan untuk terlibat dan tumbuh di dalamnya," tegas Meutya.
Ia menyoroti fenomena leaky pipeline, yakni berkurangnya jumlah perempuan yang bertahan dan berkarier di bidang teknologi meskipun telah mengikuti pelatihan digital.
Data mencatat bahwa meski 36 persen peserta pelatihan digital adalah perempuan, hanya sekitar 17 persen yang melanjutkan ke jenjang karier profesional di bidang teknologi.
"Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15 hingga 18 persen perempuan. Kita harus memastikan akses digital berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata," lanjutnya.
Pemerintah Siapkan Ekosistem Inklusif dan Dorong InovasiMeutya menjelaskan bahwa berbagai hambatan struktural seperti stereotip gender, kurangnya rasa aman, dan minimnya figur panutan masih menjadi kendala partisipasi perempuan di sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Pemerintah berkomitmen meningkatkan akses terhadap pengetahuan, pengembangan talenta, serta menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif bagi perempuan.
Sinergi dengan pelaku industri juga diperkuat untuk memastikan peningkatan kapasitas talenta digital perempuan berlangsung secara berkelanjutan.
Meutya turut mengapresiasi inisiatif seperti AWS Girls’ Tech Day yang telah memfasilitasi 400 siswi SD hingga SMA dalam mempelajari kecerdasan artifisial, koding, dan robotika.
Kepada para peserta, Meutya Hafid berpesan, “Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian.”



