Ratusan ribu Nahdliyin memenuhi Stadion Gajayana untuk mengikuti Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama dalam tahun masehi, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). Di tengah guyuran hujan, sejak pukul 22.00 sehari sebelumnya mereka sudah datang ke stadion untuk mengikuti rangkaian kegiatan.
Ragam kegiatan tersebut meliputi Shalawat Bersama Majelis Subhanul Muslimin dan Majelis Shalawat se-Malang Raya, Khotmil Qur’an, Shalat malam dan beragam kegiatan lainnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto yang datang dengan menggunakan mobil Maung Limousine RI 1. Saat datang di stadion, Prabowo langsung disambut dengan gemuruh oleh para Nahdiliyin. Sepanjang rute menuju panggung, mereka berebut untuk bisa menjabat tangan serta berfoto bersama dengan Presiden.
Prabowo didampingi sejumlah pejabat, antara lain Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo.
Di lokasi, terlihat sejumlah pejabat yang sudah lebih dulu tiba, di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dan Wagub Jatim Emil Dardak.
Banyak dari warga Nahdliyin yang datang merupakan anggota Muslimat juga Fatayat. Mengendarai beragam alat transportasi, mereka datang tidak hanya dari wilayah Malang Raya melainkan banyak wilayah di Jawa Timur. Hujan yang seringkali mengguyur Malang memaksa mereka membekali diri dengan payung dan jas hujan. Banyak juga diantara mereka yang membawa baju ganti.
Salah satu anggota Muslimat yang hadir adalah Mutmainah (53) dari Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang yang tampak bersemangat menghadiri kegiatan dengan menggunakan hiasan kepala bertuliskan Nahdlatul Ulama. Baginya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama harus diikuti.
Mutmainah datang di Stadion Gajayana pada pukul 21.30 tepat di tengah hujan deras yang menguyur. Dirinya dan teman-temannya bergeming dan bertahan hingga acara tuntas.
“Kegiatan ini limited, belum tentu mengalami lagi satu abad NU selanjutnya. Jadi hujan bukan masalah. Ya basah semua, namun saya sudah membekali baju ganti jadi pagi ini baju saya kering,” ujar Mutmainah dengan semangat.
“Sebelumnya saya dapat info kegiatan saat pertemuan rutin dan memutuskan ikut dengan sesama Muslimat dari Kecamatan Bantur. Sebelumnya saat kegiatan satu abad NU di Sidoarjo saya juga ikut, “ Ujar Mutmainah.
Sesaat setelah matahari pagi terbit, sengatan panas matahari langsung terasa. Merekapun kembali membuka payung setelah sebelumnya digunakan untuk menghindari guyuran hujan. Lapangan rumput stadion berubah seperti dipenuhi bunga warna-warni.
Bagi mereka yang hadir, hujan dan panas terik hanya ujian kecil kesetiaan pengabdian mereka pada ajaran Nahdlatul Ulama. Setelah dimulai pada pukul 21.00 WIB, acarapun selesai pada pukul 07.55 WIB.




