Jakarta, VIVA – Kemajuan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya memengaruhi pekerjaan kantoran yang berbasis komputer. Namun, teknologi tersebut kini mulai bergerak ke ranah fisik, seperti robot yang bekerja di pabrik, gudang, dan sektor teknis.
Perkembangan ini mulai memicu gelombang kekhawatiran di kalangan serikat pekerja besar Amerika Serikat. Sebab, dampaknya bisa mempengaruhi ke pekerjaan blue collar, yang sebelumnya dianggap relatif aman dari otomatisasi.
Selama ini, diskusi soal AI sering berfokus pada model bahasa besar yang otomatisasi tugas-tugas administratif atau berbasis data. Namun, ketika perangkat lunak pintar itu dipadukan dengan robot yang dapat berinteraksi dengan dunia nyata, tantangan baru muncul.
Dan Reynolds, asisten direktur riset dari Communications Workers of America (CWA), menggambarkan situasi ini sebagai perubahan skala besar. Ia mengungkapkan, integrasi AI dalam robot fisik menghadirkan tantangan yang benar-benar berbeda di luar model bahasa besar, karena sistem pintar kini bisa beroperasi di lingkungan fisik nyata.
Menurutnya, kemampuan robot bergerak, menangani benda, atau bekerja di lapangan menjadi ancaman baru bagi tenaga kerja. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan dari David White, direktur sumber daya strategis di International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM).
White mengatakan bahwa perkembangan robot AI terjadi dengan cepat, sehingga menyulitkan pekerja, serikat dan pembuat kebijakan untuk merencanakan strategi perlindungan dan adaptasi. “Kekhawatiran kami saat ini adalah robotika AI bergerak terlalu cepat, sehingga menyulitkan untuk merencanakan bagaimana ini benar-benar akan memengaruhi pekerja, dan apa yang akan dilakukan para pemberi kerja,” ujar White, sebagaimana dikutip dari Futurism, Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa serikat pekerja perlu pemantauan terus-menerus terhadap perubahan ini agar tidak terkejut ketika teknologi mulai menggantikan peran manusia dalam industri yang selama ini bergantung pada tenaga fisik.
Di sisi lain, pengalaman panjang serikat lain juga memberi perspektif kritis terhadap klaim otomatisasi. Media coordinator dari International Brotherhood of Teamsters, Matt McQuaid, menyinggung bahwa industri teknologi sering menjanjikan robot otonom seperti truk tanpa sopir yang “tiba tahun depan” selama bertahun-tahun namun belum terealisasi sepenuhnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496282/original/094551700_1770521271-IMG_9715.jpeg)