Sempat Dikira Kain Popok, Begini Cerita Fatmawati Saat Pertama Kali Terima Bahan Bendera Pusaka

suara.com
6 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Peringatan 103 tahun Fatmawati Soekarno di Jakarta (7/2/2026) menyoroti sisi humanis dan perannya sebagai penjahit bendera pusaka.
  • Fatmawati dikenang karena kegemarannya memasak masakan khas Bengkulu dan selalu bangga mengenakan Wastra Nusantara di acara kenegaraan.
  • Acara tersebut meluncurkan Fatmawati Trophy, simbol keteguhan perempuan Indonesia, serta menampilkan doa tulusnya untuk kemerdekaan Indonesia.

Suara.com - Peringatan 103 tahun kelahiran Ibu Negara Fatmawati Soekarno yang digelar di Jakarta, Sabtu (7/2/2026), menjadi momen penuh haru bagi keluarga besar Bung Karno.

Dalam acara bertajuk ‘Ibu Bangsa Fatmawati Soekarno Dalam Balutan Wastra Nusantara’ sekaligus peluncuran Fatmawati Trophy, Puti Guntur Soekarno membagikan sisi humanis sang nenek yang akrab disapa "Embu".

Di hadapan keluarga besar dan kader PDI Perjuangan, Puti mengungkapkan bahwa bagi sejarah Indonesia, Fatmawati adalah pahlawan penjahit bendera, namun bagi keluarga, ia adalah sosok nenek yang penuh kasih.

"Sebagai seorang nenek, hari ini saya, Mas Romy, Mas Dade, sampai hari ini masih bisa merasakan kehangatan cinta dari Ibu Fatmawati. Cinta yang sederhana dari seorang ibu, melalui masakannya," ujar Puti.

Puti mengenang kegemaran Fatmawati memasak masakan khas Bengkulu seperti rendang dan mengulek sambal sendiri demi anak-cucunya.

"Walaupun ayah saya (Guntur) sudah menikah, walaupun Pakde Guruh sudah besar, ketika kami berkumpul, pasti dengan penuh cinta kasih Ibu Fatmawati menyuapkan makanan-makanan itu ke mulut putra-putrinya. Itu pun yang kami (cucu-cucu) rasakan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Puti juga menceritakan momen bersejarah pada Oktober 1944 saat Fatmawati menerima kain merah dan putih dari perwira Jepang.

Menariknya, saat itu Fatmawati tengah hamil tua mengandung Guntur Soekarnoputra dan sempat tidak menyangka kain tersebut akan menjadi bendera pusaka.

"Bahan merah dan putih itu tidak ada yang tahu, bahkan Ibu Fatmawati sendiri tidak mengerti harus diapakan. Karena sedang mengandung, maka pikirannya mungkin—dari perwira yang memberikan bahan itu—ini adalah untuk dibuat popok bayi," cerita Puti.

Baca Juga: Keren! Popok Bekas Pakai Disulap Jadi BBM, Pakai Teknologi Pirolisis yang Revolusioner

Namun, naluri perjuangannya mengubah kain tersebut menjadi simbol kedaulatan yang dijahit dengan tangannya sendiri di bawah ancaman penjajah.

Selain perjuangan fisik, Puti menekankan peran Fatmawati sebagai ikon budaya yang selalu bangga mengenakan kebaya dan Wastra Nusantara di kancah internasional.

"Beliau menampilkan diri sebagai Ibu Bangsa yang penuh percaya diri. Mendampingi Bung Karno menerima tamu-tamu negara dari segala bangsa, beliau tampil dalam ciri khas keindonesiaan, dalam balutan Wastra Nusantara," jelasnya.

Menjelang akhir hayatnya pada Mei 1980, Fatmawati sempat menunaikan ibadah umrah.

Puti menceritakan doa tulus sang nenek di depan Hajar Aswad yang menunjukkan kecintaan mendalam pada tanah air.

"Aku berdoa untuk cita-cita semula, yaitu Indonesia yang merdeka. Janganlah terbang Indonesia yang merdeka ini," ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hasil Final AFC Futsal Asian Cup 2026: Indonesia Akui Keunggulan Iran setelah Drama Adu Penalti
• 7 jam lalumerahputih.com
thumb
Prabowo Minta Harga Kebutuhan Pokok Tetap Turun Jelang Ramadan 2026
• 11 jam lalueranasional.com
thumb
Bank Sentral China Kembali Borong Emas, Cetak Rekor 15 Bulan Beruntun
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Jelang Imlek, Rumah Produksi Kue Keranjang di Yogyakarta Banjir Pesanan
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ketua PN Depok Digiring KPK Pakai Rompi Oranye, Ini Penampakannya!
• 9 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.