Ceramah ini membahas kejujuran secara utuh dan berimbang, bukan hanya soal berkata benar, tetapi juga tentang kapan harus bicara dan kapan tidak boleh diam.
Islam tidak hanya melarang dusta, tetapi juga melarang sikap diam yang justru melahirkan mudarat.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang mukmin masih mungkin memiliki rasa takut dan sifat pelit, karena itu bagian dari fitrah manusia.
Namun ada satu sifat yang tidak pernah sejalan dengan iman, yaitu dusta.
Dusta yang dipelihara akan merusak hati, mengantarkan kepada kemunafikan, dan menjadi sumber berbagai kekacauan hidup.
Namun pertanyaannya, apakah menyimpan kebenaran demi “tidak mau ikut campur” termasuk dusta?
Islam menjawabnya dengan tegas melalui kaidah:
“Qulil haqqa walau kaana murran.”
Katakan yang benar walaupun pahit.
Dalam ceramah ini dijelaskan bahwa diam terhadap kebenaran yang jelas, jika berpotensi menimbulkan kerusakan, juga termasuk bagian dari kebohongan.
Contohnya ketika seseorang mengetahui ada pengkhianatan, penipuan, atau kebohongan yang akan mencelakakan orang lain, lalu memilih diam demi kenyamanan pribadi.
Islam bahkan membolehkan ghibah dalam kondisi tertentu, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyelamatkan.
Misalnya ketika seseorang mengaku lajang padahal telah beristri, lalu mendekati perempuan lain.
Jika kita mengetahui kebenaran itu dan memilih diam, maka kita ikut membuka jalan pada kezaliman.
Dalam kondisi seperti ini, membuka fakta justru menjadi bentuk kejujuran dan perlindungan, bukan dosa.
Inilah yang disebut dalam kaidah ushul fikih:
“Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih.”
Menghilangkan kerusakan harus didahulukan daripada meraih kemaslahatan.
Ceramah ini juga menegaskan bahwa Islam membolehkan dusta hasanah dalam kondisi tertentu:
untuk menyelamatkan nyawa,
untuk mendamaikan manusia,
dan untuk menjaga keutuhan rumah tangga.
Namun garis batasnya jelas dan tegas:
- tidak untuk keuntungan pribadi
- tidak untuk menutupi dosa
- tidak untuk menzalimi orang lain
Kejujuran tetap hukum asal. Diam, berkata, atau menyampaikan kebenaran harus dilandasi niat menjaga keselamatan dan keadilan, bukan ego dan kenyamanan diri.
Di akhir ceramah, kita diingatkan bahwa kejujuran memang tidak selalu nyaman, bahkan kadang menyakitkan.
Namun kepahitan itu hanya sesaat. Sementara dampak dari dusta termasuk dusta dengan cara diam panjang dan menghancurkan.
Jujur itu menyelamatkan.
Jujur itu menenangkan.
Dan jujur itu menjaga banyak nyawa, hati, dan masa depan.
Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita, memberi kita keberanian untuk berkata benar, dan kebijaksanaan untuk berkata dengan cara yang paling membawa maslahat.
Sahabat Kompas TV,
saksikan video lengkapnya hanya di channel youtube Kalam Hati,
setiap hari Minggu jam 13.00 WIB.
Jangan lupa Like, Comment, and share.
Serta follow akun Instagram kita di: @dikalamhati
Penulis : Mukhammad-Rengga-
Sumber : Kompas TV
- kalam hati
- kalam hati kompas tv
- kajian islami
- ceramah agama
- kultum





