Bisnis.com, JAKARTA – Keterlambatan kegiatan bongkar muat barang di berbagai pelabuhan Indonesia menjadi keresahan di kalangan pengusaha hingga mereka ramai-ramai meminta pemerintah turun tangan melakukan pemeriksaan layanan logistik nasional.
Sekjen Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengatakan produktivitas bongkar muat yang menurun dan pendangkalan yang terjadi di beberapa jalur pelabuhan memicu lonjakan biaya operasinal.
“Sudah sering dan banyak keluhan dari pelaku usaha hampir di seluruh pelabuhan, khususnya pelabuhan domestik. Keluhan itu terutama masalah keterbatasan jumlah maupun kemampuan kinerja alat bongkar muat pelabuhan yang membuat antrean memanjang,” kata Sanjaya dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (8/2/2026).
Di beberapa daerah, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, dia mengatakan bahwa pengiriman barang sering mengalami keterlambatan, baik saat berangkat maupun sampai ke tujuan akhir.
Penyebab keterlambatan disebut lantaran jadwal sandar kapal yang molor dan produktivitas alat bongkar muat di pelabuhan yang rendah, sehingga jadwal pengiriman barang terganggu.
“Saat ini kegiatan logistik melalui pelabuhan laut terus meningkat, terutama untuk jalur perdagangan domestik. Karena itu pemerintah semestinya memprioritaskan peningkatan layanan pelabuhan-pelabuhan domestik ini, sehingga proses pengiriman barang menjadi efisien dan konsumen juga tidak terpapar biaya yang kian mahal,” terangnya.
Baca Juga
- Komisi IV Minta KKP Benahi Overkapasitas Pelabuhan Muara Angke
- DAMRI Buka Rute Pelabuhan Karimunjawa-Legon Bajak, Tarif Hanya Rp7.000!
- KKP Mulai Relokasi Kapal Mangkrak di Pelabuhan Muara Angke
Tak hanya merugikan pemilik kapal dan pelaku usaha pengiriman barang, buruknya layanan pelabuhan juga menjadi beban perusahaan logistik. Menurut Sanjaya adanya keterlambatan pengiriman barang membuat okupansi kegiatan usaha dan utilisasi truk logistik juga terjun bebas. Dampaknya, omset menurun sementara beban biaya cenderung terus naik.
“Pelaku logistik banyak terbebani ketidakpastian peraturan, tumpang tindih aturan serta keterlibatan banyak instansi yang terlibat sehingga menghambat kecepatan dan keberlangsungan kinerja pelaku usaha logistik nasional. Biaya mahal di pelabuhan ini merugikan semua pihak,” terangnya.
Sebelumnya, Ketua ALFI Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan proses sandar dan bongkar muat berlangsung lebih lama dibanding periode normal. Alhasil, waktu tunggu kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya meningkat tajam.
Keterlambatan terjadi akibat keterbatasan alat bongkar muat lantaran sejumlah crane dinilai sudah tua. Kondisi ini terlihat di Terminal Peti Kemas Nilam dan Terminal Peti Kemas Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak.
Kapasitas ideal Container Processing Area berkisar 30 hingga 40 kontainer per jam, sementara realitas di lapangan saat ini hanya sekitar 10 kontainer per jam.
Di Pelabuhan Belawan Medan, Ketua ALFI Sumatra Utara Surianto Butong mengatakan kapal sulit bersandar karena ada pendangkalan alur pelabuhan.
Akibatnya, kapal yang bersandar hanya kapal yang ukuran lebih kecil, yakni yang hanya bisa memuat 200-300 TEUS. Biasanya kapal yang bersandar yang bermuatan 400 – 500 TEUS bahkan sampai1000 TEUS.
Bahkan, di Pelabuhan Merauke Papua Selatan, Ketua DPC ALFI Merauke Abi Bakri Alhamid mengatakan kapal-kapal molor bersandar hingga 3-4 hari dari jadwal. Hal ini karena keterbatasan depo peti kemas di pelabuhan. Barang turun dari kapal masih harus menunggu pembongkaran di depo. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan masih dilakukan dengan sistem lama, seperti stripping di dalam pelabuhan.
Bahkan menurut informasi di lokasi, waktu tunggu kapal sandar bisa 7-10 hari. Setelah sandar pun, yang biasanya dua hari selesai, saat ini menjadi tiga hingga lima hari. Sehingga, waktu yang dibutuhkan sejak kapal tiba sampai berangkat lagi berkisar 10 hari hingga 15 hari.
Upaya PelindoMenanggapi kondisi tersebut, PT Pelindo Terminal Peti Kemas memastikan perseroan terus melakukan perbaikan berkelanjutan untuk memberikan pelayanan yang lebih baikkepada para pengguna jasa.
Corporate Secretary Pelindo Terminal Peti Kemas Widyaswendra mengatakan pelayanan bongkar muat peti kemasdi TPK Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam dan TPK Berlian berjalan sesuai dengan perencanaan dan dipastikan tak ada keterlambatan pelayanan yang berakibat cukup signifikan dan berpengaruh pada jadwal sandar kapal.
“Kami pastikan tidak ada kapal antre hingga 6 hari lamanya untuk menunggu pelayanan di terminal peti kemas yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak,” tegas Widyaswendra.
Setiap kapal yang akan melakukan kegiatan di terminal peti kemas telah memiliki jadwal kedatangan yang terencana atauberthing window system.
Selain itu, pelayanan terhadap kapal diberikan berdasarkan kebijakan operasional terminal dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, keselamatan, kondisi lapangan, serta kelancaran arus kapal secara keseluruhan.
Dia pun menerangkan pada tahun 2026 ini akan ada 4 unit alat baru jenis QCC dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG) yang akan tiba di TPS Surabaya. Hal serupa dilakukan di TPK Berlian yang akan dilengkapi dengan 2 unit QCC yang diperkirakan tiba pada pertengahan tahun 2026.
“Kami akui dalam hal pelayanan kami terus berbenah, perbaikankami lakukan di seluruh wilayah kerja mulai dari Belawan hingga Merauke,” tutupnya.




