Ekonomi Sumbar Awal 2026 Stabil, Tapi Petani Masih Tertekan

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Awal tahun 2026 membawa kabar yang relatif menenangkan bagi perekonomian Sumatera Barat. Harga-harga kebutuhan pokok tidak melonjak, aktivitas ekonomi tetap bergerak, dan ekspor justru menunjukkan kinerja yang mengesankan. Namun, jika ditelisik lebih dalam, stabilitas ini menyimpan sejumlah catatan penting, terutama bagi petani dan ketahanan pangan daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sumatera Barat pada Januari 2026 secara tahunan berada di angka 3,92 persen. Bahkan, dibandingkan bulan sebelumnya, terjadi deflasi sebesar 1,15 persen. Artinya, secara umum harga barang dan jasa cenderung turun. Bagi masyarakat perkotaan, kondisi ini tentu terasa melegakan karena daya beli relatif terjaga.

Namun, ekonomi tidak hanya soal kota dan pusat perbelanjaan. Ada sektor-sektor lain yang perlu mendapat perhatian agar stabilitas ini benar-benar dirasakan merata.

Harga Turun, Tapi Petani Belum Tersenyum

Di perdesaan, kondisi yang dirasakan petani tidak selalu sejalan dengan angka inflasi yang terkendali. Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Barat pada Januari 2026 tercatat sebesar 126,80, turun 0,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini menandakan bahwa pendapatan petani dari hasil panen menurun lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Subsektor hortikultura menjadi yang paling terdampak, terutama akibat turunnya harga sayur-sayuran. Ini menunjukkan bahwa ketika harga pangan turun di pasar, tidak otomatis kesejahteraan petani ikut naik. Di sinilah pentingnya kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen.

Pariwisata Ramai, Tapi Belanja Masih Tipis

Di sektor pariwisata, Sumatera Barat masih menunjukkan geliat yang cukup baik. Pada Desember 2025, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai sekitar 1,67 juta perjalanan, sementara wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 7.081 kunjungan. Angka ini menunjukkan bahwa Sumatera Barat tetap menjadi tujuan perjalanan yang diminati.

Meski demikian, tingkat hunian hotel berbintang masih berada di kisaran 43 persen, dengan rata-rata lama menginap hanya sekitar satu hari. Ini menandakan bahwa banyak wisatawan datang, tetapi tidak tinggal lama. Tantangannya ke depan bukan hanya mendatangkan pengunjung, melainkan mendorong mereka untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak di daerah.

Ekspor Melaju Kencang, Jadi Penopang Ekonomi

Kabar baik datang dari perdagangan luar negeri. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor Sumatera Barat mencapai sekitar US$2,78 miliar, tumbuh lebih dari 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan impor sekitar US$612 juta, Sumatera Barat mencatat surplus perdagangan yang sangat besar.

Ekspor ini didominasi oleh produk industri pengolahan, khususnya berbasis kelapa sawit, dengan tujuan utama ke negara-negara Asia Selatan. Kinerja ini menjadi bantalan penting bagi perekonomian daerah di tengah ketidakpastian global. Namun, ketergantungan pada komoditas tertentu juga perlu diantisipasi agar ekonomi daerah tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga dunia.

Produksi Padi Naik, Tapi Awal Tahun Perlu Waspada

Dari sisi pangan, produksi padi Sumatera Barat sepanjang 2025 tercatat meningkat menjadi sekitar 1,38 juta ton gabah kering giling, setara dengan lebih dari 800 ribu ton beras. Meski demikian, luas panen justru mengalami penurunan, dan potensi produksi pada awal 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kondisi ini perlu dicermati karena pasokan pangan yang terganggu berpotensi memicu kenaikan harga di bulan-bulan berikutnya. Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan beras, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat luas.

Menjaga Stabilitas, Mendorong Kesejahteraan

Melihat keseluruhan kondisi tersebut, ekonomi Sumatera Barat pada awal 2026 dapat dikatakan relatif stabil, tetapi belum sepenuhnya inklusif. Harga-harga terkendali dan ekspor melaju, namun petani masih menghadapi tekanan, pariwisata belum optimal dari sisi nilai tambah, dan ketahanan pangan awal tahun perlu diantisipasi.

Di sinilah peran kebijakan fiskal menjadi penting. Anggaran pemerintah perlu diarahkan tidak hanya untuk menjaga stabilitas, tetapi juga untuk mendorong sektor-sektor produktif agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata. Jika dikelola dengan tepat, ketenangan ekonomi di awal tahun ini dapat menjadi fondasi bagi Sumatera Barat yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Alauddin, Teliti Pendidikan Islam Kontemporer
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Mensesneg Ungkap Arahan Prabowo di Rapim TNI-Polri: Jadi Tentara-Polisi Rakyat
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
4 Kiat Diet untuk Anak Kost! Hemat, Kenyang, dan Tetap Sehat
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
1,82 Juta SPT Tahunan Telah Dilaporkan, Aktivasi Coretax Capai 13,34 Juta Akun
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Headhunter Executive Search Adalah Solusi Rekrutmen Level Eksekutif untuk HRD
• 19 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.