Jakarta, VIVA – Harga Bitcoin (BTC) anjlok tajam pada perdagangan Jumat (6/2) hingga sempat menyentuh level US$60.000. Hal itu dinilai tertekan oleh kombinasi gelombang likuidasi posisi leverage dan meningkatnya tekanan jual dari investor institusional.
Vice President Indodax Antony Kusuma mengatakan bahwa kondisi tersebut menunjukkan reaksi pasar yang berlangsung cepat di tengah tekanan likuiditas.
"Ketika tekanan jual terjadi bersamaan, pasar kripto bisa bergerak sangat cepat karena banyak posisi ditutup dalam waktu yang sama," ujar Antony dikutip dari keterangannya, Minggu, 8 Februari 2026.
Menurut dia, aksi likuidasi di pasar kripto juga diikuti oleh aksi jual dari investor besar, hal ini terlihat dari aktivitas di pasar exchange-traded fund (ETF) Bitcoin. ETF Bitcoin spot milik BlackRock, IBIT, mencatat volume perdagangan harian tertinggi dengan nilai transaksi melampaui 10 miliar dolar AS.
Lonjakan aktivitas tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan harga IBIT dan diikuti penarikan dana dalam jumlah besar, menunjukkan bahwa investor institusional ikut melepas kepemilikan mereka.
Antony menilai pergerakan Bitcoin juga menunjukkan pelemahan yang signifikan yang mana mata uang digital ini telah kehilangan area support di kisaran 65.000 hingga 62.000 dolar AS sehingga memicu stop-loss beruntun dan membuka ruang penurunan ke area 60.000 dolar AS.
Pelemahan harga tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) sempat turun di bawah 1.800 dolar AS, sementara Solana (SOL) menembus level 70 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Desember 2023. Tekanan ini menunjukkan aksi jual yang meluas di pasar kripto.
Antony menegaskan bahwa pelemahan yang terjadi saat ini tidak hanya dialami pasar kripto, namjun juga terlihat di pasar saham teknologi dan aset berisiko lain.
"Ketika investor global mengurangi eksposur risiko, kripto biasanya juga ikut terdampak,” katanya.
Antony menjelaskan kondisi tersebut mencerminkan fase risk-off di pasar global, di mana investor mulai mengurangi kepemilikan pada aset berisiko di tengah pengetatan likuiditas dan rilis data ekonomi yang mengecewakan dari sejumlah negara.
Terkait pergerakan selanjutnya, Antony menegaskan bahwa arah Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas pasar global dan respons investor terhadap kondisi makro.




