Jakarta, tvOnenews.com - Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, beserta jajarannya mendapatkan ancaman serius dari seorang pria yang membawa golok, saat melakukan penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Teluk Pucung, Bekasi Utara.
Berdasarkan rekaman video yang viral di media sosial, kericuhan tersebut pecah saat petugas sedang melakukan pembersihan alat peraga kampanye atau reklame.
Suasana memanas ketika petugas hendak menertibkan sebuah wadah besi yang digunakan untuk menyimpan kelapa.
Tak disangka, seorang pria mengenakan kaus merah tiba-tiba muncul dan melontarkan makian kepada rombongan, termasuk Kapolres Metro Bekasi Kota yang ada di lokasi.
Ketegangan memuncak saat pria tersebut masuk ke dalam sebuah ruko, keluar dengan membawa golok, dan melangkah agresif ke arah rombongan Wali Kota.
"Awas pak, awas pak wali," teriak orang yang merekam kejadian tersebut dengan nada panik.
Melihat situasi yang membahayakan, Tri Adhianto segera menjauh dari titik konflik sementara petugas lainnya berupaya keras untuk menenangkan pria yang tengah naik pitam tersebut.
Menanggapi kejadian traumatis itu, Tri Adhianto menjelaskan bahwa langkah penertiban yang dilakukan sebenarnya sudah melalui prosedur yang benar, termasuk pemberian peringatan terlebih dahulu.
"Tentu sudah ada imbauan sebelumnya, petugas jadi kami minta untuk dapat melakukan secara persuasif. Tugas saya memastikan negara hadir untuk menegakkan aturan," kata Tri saat dikonfirmasi, Minggu (8/2).
Meski keselamatannya sempat terancam, orang nomor satu di Bekasi ini mengaku tidak gentar menghadapi intimidasi fisik.
Hal yang justru paling ia takutkan adalah dampak sosial jika pelanggaran aturan terus dibiarkan tanpa tindakan tegas.
"Saya bukan khawatir kepada goloknya tetapi khawatir jika masyarakat sering melanggar peraturan dan ini akan menjadi kebiasaan. Lama-lama jadi pembiaran, akhirnya para pelanggar merasa dirinya paling benar," ujar Tri dengan tegas.
Menurut Tri, reaksi keras dan kemarahan dari pelanggar aturan seperti yang ia alami adalah dampak dari kurangnya ketegasan di masa lalu.
"Nah kemarahan ini lah bentuk akumulasi pembiaran selama bertahun-tahun ketika nggak pernah ditindak," ujarnya.



