Di suatu senja di bawah langit yang perlahan kelabu, rintik hujan mulai turun, menetes lembut di atap rumahku yang bocor. Suasana hening sejenak, teralihkan oleh suara air yang jatuh dari atap itu. Itulah rumahku di masa lalu, tempat tinggal bersama orang-orang yang anggun ku sebut sebagai keluarga.
Dalam kesederhanaan dan keterbatasan saat itu, aku menemukan keindahan yang ingin terus ku huni meski terhalang oleh kemustahilan.
Kemustahilan itu mendorongku untuk menatap keluar, mengamati keindahan ciptaan Tuhan dari sudut pandang lain. Lensaku mengarah pada pasar yang masih ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang bersaut-sautan dan tawar-menawar.
Bangunan gedung tua, toko-toko milik pedagang Tionghoa—yang menjual emas, aneka buah, bumbu, VCD, baju raya, petasan, dan kue nastar—masih tertata rapi menyambut pembeli. Aroma pasar di bulan puasa sore itu berpadu dengan tanah basah akibat hujan dan lantunan ayat suci dari masjid pusat kota, yang berdampingan dengan gereja yang megah. Aktivitas ini tampak indah dengan umat yang menyambut buka puasa di senjakala pasar dan dinginnya hujan.
Warung kopi dan rujak kelontong menjadi tempat bertemunya ide-ide serta interaksi gurau para pengunjung pasar. Saat sejenak melangkah, terlihat seorang penjaga kaset tua renta merentangkan payung hitamnya untuk melindungi dagangannya.
Di tengah kesederhanaan lain, tampak serupa orang-orang masih antusias membeli buah dan aneka takjil untuk menyambut buka puasa; mereka senantiasa menyimpan harapan dan keinginan untuk berbagi kebahagiaan meski dalam keterbatasan.
Lalu, sejenak tersorot sosok anak kecil merengek meminta petasan dan kembang api. Sungguh sebuah keberagaman yang kompleks kala itu yang menjadi potret kehidupan di satu dekade yang lalu.
Melintasi hujan yang membasahi dan tiupan angin yang tak menentu itu membuat diriku serasa menemukan kemiskinan yang tersembunyi di balik semangat orang-orang dalam menyambut sebuah perayaan suci. Mereka semua tak pernah tahu ke mana harus menyelinap di balik gelisahnya keramaian.
Saat senja tiba dan waktu berbuka puasa membawa kebahagiaan bagi sebagian orang, terdapat pula kegelisahan bagi mereka yang memikirkan hari raya untuk anak istri mereka—sementara harga-harga masih terus menikam.
Sebuah Refleksi atas Perubahan WaktuDalam waktu yang terus berlalu, hujan masih sama berkejaran di atap bangunan tua itu. Terminal angkot yang usang dan bangku-bangku lama menjadi saksi bisu perjalanan kehidupan. Suasana tetap serupa ketika ada hujan dan senja, ribuan burung gereja hinggap di kabel listrik, seraya menahan dingin dan angin.
Pasar kotaku ini masih basah seperti tubuh tua yang enggan beristirahat. Di sudut petang, pasar kota ini tetap hidup, meski telah dilalui waktu panjang dan hiruk-pikuk kehidupan tanpa henti.
Di ujung senja kelabu, di tengah rintikan hujan yang tak henti-hentinya, kita menemukan bahwa setiap tetes air adalah cermin dari harapan dalam jiwa.
Pasar kota ini—dengan segala keramaian dan kesederhanaannya—menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang tak pernah berhenti. Faktanya, setiap wajah yang melintas itu membawa cerita dan impiannya masing-masing. Sebuah kerumitan dalam kehidupan, di balik kemustahilan dan keterbatasan, tersimpan keindahan dan harap yang tiada duga.
Sebuah dialektika abadi antara harapan dan kenyataan. Kemudian saat kita menatap ke depan, ingatlah bahwa dalam setiap senjakala datang, selalu ada cahaya baru menanti untuk ditemukan dan mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah rangkaian harapan yang mengandung tekad, meski harus melintasi rinai hujan, bahkan langit senja yang kelabu sekalipun.




