IHSG pada pekan ini diproyeksi melemah terbatas. Sejumlah sentimen dari luar negeri turut menekan pasar modal Indonesia.
IDXChannel - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diproyeksi melemah terbatas. Sejumlah sentimen dari luar negeri turut menekan pasar modal Indonesia.
Adapun IHGS pada pekan lalu mengalami tekanan hebat dengan koreksi mencapai -4,73 persen ke level 7.935. Pelemahan ini dibarengi dengan aksi jual bersih (net outflow) di pasar reguler sebesar Rp1,2 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengungkapkan, ancaman MSCI terkait transparansi pemegang saham yang dapat menyeret Indonesia ke frontier market masih menjadi beban utama. Selain itu, sentimen negatif datang dari langkah Moody’s yang memangkas outlook Indonesia serta dinamika geopolitik global.
Pasar merespons negatif keputusan Moody’s yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Meski fundamental ekonomi dianggap solid dengan pertumbuhan di level 5,11 persen, Moody’s menyoroti ketidakpastian kebijakan dan tata kelola badan pengelola investasi baru, Danantara.
“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar,” kata Imam dalam risetnya, Senin (9/2/2026).
Dampak penurunan outlook ini merembet ke emiten-emiten besar seperti Telkom, Pertamina, serta perbankan utama (Mandiri, BRI, BNI, BCA, BTN) yang kini lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lebih lanjut.
Dari sisi global, meskipun ada sinyal positif lewat jalur diplomasi AS-Iran di Oman, risiko eskalasi di sektor maritim tetap membayangi pasar.
“IPOT melihat risiko geopolitik tetap tinggi karena AS pada saat yang sama menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran. Kami menilai peluang eskalasi serangan terbatas di maritim masih terbuka meski jalur diplomasi berlanjut,” ujar Imam.
Memasuki pekan kedua Februari, perhatian investor akan terbagi antara data inflasi Amerika Serikat dan China, serta indikator domestik seperti penjualan ritel Desember 2025 dan penjualan mobil Januari 2026.
IPOT memproyeksikan IHSG masih bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas. Pasar diprediksi sangat berhati-hati memantau dampak pemangkasan outlook oleh Moody’s terhadap biaya pendanaan emiten-emiten besar di Indonesia dengan support 7.716 dan resisten di 8.207.
Di tengah volatilitas pasar, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan beberapa saham dan ETF untuk dicermati:
1.Buy On Pullback PNLF (Entry: Rp270–Rp272, Taking Profit (TP): Rp292 dan Stop Loss (SL): < Rp260).
2. Buy ADRO (Entry Rp2.080, TP: Rp2.240 dan SL < Rp2.000.
3. Buy PANI (Entry: Rp8.925, TP: Rp9.600, SL: < Rp8.600).
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).
(Febrina Ratna Iskana)



